Ratih di Beach Club - 2

Bookmark and Share

Terasa Ratih menyenderkan tubuhnya kepadaku hingga terasa pantatnya menekan penisku, sekejap terasa aliran listrik di sana. Akhirnya kami jalan bergandengan ke kamar Ratih, jam menunjukkan pukul 7, hari masih terang. Sesampai di kamar, aku duduk di sofanya, setelah mengobrol sebentar, Ratih masuk ke kamar mandi, pintunya sedikit terbuka lalu terdengar suara shower pertanda Ratih sedang mandi. Tak lama dia keluar kamar mandi dengan mengenakan kimono handuk panjang sampai ke bawah lutut.

"Hayo.. Sana mandi, terus kita berangkat.." katanya.

Aku buka baju dan celanaku di depan pintu kamar mandi lalu kulempar di meja tempat menaruh kopor, penisku yang lemas terlihat kecil.

"Nggak malu ya buka celana di depan gua?" katanya sambil tertawa.
"Ngapain malu, kan lu udah pernah liat" jawabku.
"Waktu itu liatnya nggak jelas, gelap dan sekelebatan, lagian kan udah lama" protesnya.
"Mau liat lebih jelas? " kataku sambil melirik dan masuk ke kamar mandi tanpa menutup pintunya sama sekali, toh kalau dia tidak jalan ke arah pintu, dia tidak dapat melihat aku yang bugil di kamar mandi.

Ketika aku menikmati hangatnya air dari shower dengan membelakangi pintu, tiba tiba terdengar pintu shower terbuka, aku pura pura tidak tahu. Lalu aku balikkan badan sambil menutup mata merasakan air shower di kepalaku, Aku intip, Ratih sudah berada di dalam shower, telanjang bulat.

"Kok nggak sama seperti yang gua lihat dulu, kecil ?" ujarnya sambil tangannya memegang penisku, otomatis aliran darah segera menuju penisku yang menyebabkan mengeras.

Aku tarik Ratih ke pelukanku sambil aku cium bibirnya dan kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Ratih membalas tak kalah hot, dijulurkannya lidahnya mencari lidahku dan berusaha menyedotnya, sementara penisku segera mengeras dengan sempurna di tangan Ratih.

Segera Ratih melepaskan bibirnya dari bibirku, turun menjilati leher dan belakang telingaku, aku remas buah dadanya yang kecil tapi cukup sekal untuk wanita berumur kepala 3 seperti dia. Dia mencari putingku lalu disedotnya perlahan dan diberinya gigitan-gigitan kecil di sekitarnya.

"Ooh Rat..,. Enak Rat.. Terus.. Terus"

Sementara tangannya menjulur meremas penis dan buah zakarku sambil menurunkan badannya dia berjongkok lalu lidahnya terasa menyapu kepala penisku, dijilatnya belahan kecil penisku, kejang-kejang ngilu aku dibuatnya, lalu dikulumnya kepala penisku.

"Lho kok bisa jadi gede segini?"

Perlahan tapi pasti, penisku masuk perlahan lahan sambil kepalanya berputar ke kanan ke kiri dan lidahnya menelusuri batang penisku. Rasanya nikmat sekali. Kepalanya maju mundur mengocok penisku sambil sesekali diputarnya ke kanan ke kiri dan lidahnya bermain main di ujung penisku. Penisku dilepas dari mulutnya, lalu lidahnya menjilati buah zakarku, turun terus ke bawah ke arah pangkal penisku sampai perbatasan dengan anusku sambil tangannya terus mengocok penisku.

"Ooh.. Rat.. Aku hampir keluar.. Terus Rat.. Ke bawah.." erangku.

Ratih kembali memasukan penisku ke dalam mulutnya lalu mengocok dan dihisapnya kuat-kuat sampai akhirnya.. Serr.. Serr.. terasa spermaku keluar dengan derasnya kira kira 5-6 kali mengedut di dalam mulutnya. Ratih masih terus menghisap penisku sampai kakiku terasa lemas, tapi penisku masih terasa keras, lalu Ratih segera menungging menghadap kaca dan tangannya bersender di kaca. Tanpa basa basi langsung aku colokkan penisku ke dalam vaginanya, agak seret, namun tidak terlalu sulit untuk memasukinya.

"Vir.. Kontol lu enak.. Sayang udah nggak seberapa keras" ujarnya. Memang terasa penisku mengecil dan akhirnya lepas dari vaginanya. Ratih tertawa terbahak-bahak.
"Satu nooll" godanya sambil mengecup bibirku, lalu dia keluar dari kamar mandi.
"Nanti disambung lagi aja deh, sekarang kita ke Beach Club dulu, gua mau mabok malam ini" katanya.

Akhirnya aku dan Ratih berpakaian dan kami pergi ke Beach Club, aku perkenalkan Ratih pada beberapa kawanku di sana dan kami bersama-sama menikmati lagu dan minuman sampai jam 11 malam. Ratih tampak cukup mabuk. Dalam pelukanku kami balik ke hotel diantar mobil oleh kawanku, Ratih memberikan kunci kamarnya dan kami masuk ke lift. Kutekan lantai kamarku, Ratih tidak menyadarinya karena kepalanya disandarkan pada dadaku sampil merapatkan matanya. Akhirnya kubuka kamarku, Ratih sudah pasrah dan aku bawa dia telentang di ranjang. Kebetulan bentuk ruangan kamarku sama dengan kamar dia. Kutindih dia sambil kuciumi leher dan bibirnya.

"Ooh Vir, sorry, I am out of control, but still can fell your nice lips and tongue, please lick and suck me" rintihnya.
"You'll get the best you ever had darling, just follow the flow and enjoy my service" balasku.

Bajunya aku buka sampai dia telanjang bulat, terlihat bulu bulu vaginanya hitam berbentuk segi tiga rapi. Aku buka pakaianku sampai aku juga telanjang bulat, dia tetap tidak menyadari bahwa ini bukan kamarnya. Pelayanan aku mulai dari ujung dahinya, aku kecup perlahan, menuju kedua matanya, aku jilat mata tertutupnya lalu menuju hidung mancungnya, aku gigit ringan batang hidungnya lalu kucium bibirnya dengan penuh nafsu, Ratih membalas ciumanku dengan menggigit gigit bibirku ringan.

Kuarahkan lidahku menuju telinganya dan kukorek lubang telinganya dengan lidahku. Kepalanya bergoyang. Lalu aku sedot sedot sepanjang lehernya dari kiri ke kanan, kuangkat tangannya dan kujilat ketiaknya, dia mengerang keras keenakan dan geli. Kusedot ketiaknya agak keras.

"Viirr.. Aach.. Acchh.. Terus vir, feel good honey.." katanya sambil terus bergelinjang semantara penisku sudah mulai mengeras

Kuarahkan mulutku menuju buah dadanya yang mungil, cukup kenyal, kumainkan lidahku di putingnya lalu kedua putingnya bergantian. Jari tanganku mencari lubang vaginanya, tapi aku berhenti di klitnya, kugesek gesek jariku, kembali Ratih berteriak..

"Acchh.. Viir, aku mau keluar". Kuhentikan gerakan tanganku.
"Vir.. Terus dong, udah mau keluar.."
"Hmm.. Gua hisap aja ya" ujarku.

Langsung kuarahkan mulutku ke vaginanya, kembali kupermainkan lidahku di klitorisnya sambil kuhisap dan kusedot sedot, lalu kumasukkan lidahku kedalam vaginanya sedalam-dalamnya. Kusapukan lidahku di sekeliling dinding dalam vaginanya sambil telunjuk tangan kananku mencari anusnya. Dengan cairan dari vaginanya, jariku basah dan aku dorong memasuki anusnya sekitar 2 cm.

"Teruus viir, yang dalam lagi.. Ooh enaak.." terasa goyangan pantatnya cepat dan membuat lidahku kerepotan mengejarnya.
"Aku keluaar Viir.." Tangannya menjambak rambutku dan menarik kepalaku agar lebih dalam lidahku memasuki vaginanya. Terasa cairan sedap di lidahku, pertanda dia sudah orgasme.
"Ooh, Vir, enak sekali..,.. Give me some more.." rintihnya denga nafas menggebu.

Kembali aku jilat dan isap vaginanya, cairan cintanya masih terasa di lidahku. Lalu aku angkat kakinya tinggi tinggi, aku tarik bantal dan kusisipkan di bawah pantatnya sehingga lubang vaginanya semakin menantang. Tapi vagina bukan sasaranku, kujilat perlahan lubang anusnya mengitari seluruh permukaannya dan kudorong lidahku memasuki anusnya dan kuhisap-hisap dengan kuat.

"Viir.. Ennaak banget sih, lidah lu, nggak tahan gua nih, masuking dong, kontol lu pasti enak tuh" katanya perlahan.

Kubalikkan tubuhnya dengan 2 buah bantal di perutnya sehingga pantatnya naik mencuat ke atas. Perlahan kembali kujilat anusnya, dengan posisi demikian, pergerakan kepalaku lebih bebas mengorek ngorek anusnya, nikmat sekali rasanya. Lalu perlahan kumasukkan penisku ke vaginanya dari belakang, agak mudah masuknya karena sudah licin.

"Viir, ternyata bener, kontol lu enak, terasa sesak dan penuh, bisa lebih dalam lagi nggak?" pintanya.

Kutekan pantatnya, lalu aku duduki pantat itu sambil kuletakkan tanganku di bahunya. Perlahan kugoyang pantatku maju mundur sehingga penisku keluar masuk vaginanya dengan kedua kaki menjepit sebagian penisku. Makin lama gerakanku makin cepat. Semakin cepat, Ratih semakin histeris, semakin terasa pula penisku menggesek dinding vaginanya yang tertekan oleh kaki Ratih dan kakiku yang menekan pantatnya. Akhirnya..

"Ratih.. Ratih.. Raat.. Gua keluaarr nih" teriakku.
"Terus.. Terus.. Gua juga sudah hampir, tekan.. Tekan yang keras.." teriaknya pula.
"Aacchh.. Aacchh.. Gua juga akhirnya berhasil..".

Akhirnya kami tertidur berpelukan dan telanjang bulat hanya menarik selimut tebal yang ada.

*****

Keesokan harinya aku terbangun mendengar teriakan Ratih..

"Vir.. Mana pakaian dan koperku.. Sepertinya kok ini bukan kamarku..?" teriaknya kaget setelah melihat barang barangnya tidak ada di tempat. Aku gosok mataku sambil tersenyum.
"Nanti kita ke KLCC aja, gua beliin baju buat lu pulang"
"Sialan lu.. Ada apa ini?
"You are in my room non cantik, actually I stay here too and this is my room.."
"Huuh.. Gak pernah serius nih lu.., musti dihukum.. Hmm.. Mau lagi kaya semalem.." katanya sambil menerkam tubuhku dan menciumi tubuhku.

Akhirnya kembali kami melepaskan hasrat nafsu birahi kami pagi itu, lalu aku mandi dan langsung ke KLIA untuk pulang ke Jakarta, sementara Ratih akan balik ke Jakarta esok hari.

"Have fun tonight ya, see you in Jakarta"
"Have fun.., Have fun apaan, masih terasa nih, bakalan 3 hari!!" katanya sambil jarinya menunjuk ke arah vaginanya.

Tamat