Secret lover - 1

Bookmark and Share

Jakarta, 18 November 2000, 07:18 PM.

Termenung saya dalam mini jeep yang saya kendarai, memandangi antrean kendaraan yang hendak memasuki gerbang Puri Agung Sahid malam itu. Sepasang janur kuning berukuran besar tampak menjuntai di kejauhan, menandakan acara apa yang sedang dilangsungkan di dalamnya. Saya memang berniat menuju ke sana, sama seperti kerumunan mobil yang terjebak dalam antrean ini.Perlahan saya perhatikan mobil-mobil yang berjejal dalam antrean. Mini jeep saya terlihat seperti sebuah rumput liar di taman penuh bunga. Tepat di depan saya terpampang 735iL, lalu beberapa meter darinya tampak S320. Ada pula S70 dengan plat nomor BS di belakangnya, lalu masih banyak lagi mobil-mobil CBU yang bahkan dalam mimpi pun saya belum pernah melihatnya. Semuanya antri ingin memasuki halaman parkir perhelatan tersebut.

Tiba-tiba saya tersenyum simpul, mengingat ucapan seorang yang saya tuakan dalam hidup ini. Katanya di Jakarta tidaklah heran menemukan orang kaya, yang mengherankan adalah menemukan orang jujur. Dan sudah jujurkah semua tuan-tuan bermobil mewah ini? atau lebih jauh lagi, sudah jujur pulakah diri saya?

Sebelum terlampau jauh, ijinkanlah saya memperkenalkan diri. Nama saya Ryo, 23 M Jkt. Yah saya memang bukan lagi Ryo 23 M Bdg seperti dalam kisah-kisah terdahulu. Kelulusanku dari sebuah fakultas teknik yang dikenal sebagai ekonominya teknik (karena banyak mata kuliah ekonomi dalam kurikulumnya) dari sebuah Universitas ternama di kota itu telah mengantarkanku mendapatkan pekerjaan di Jakarta beberapa waktu yang lalu. But one thing for sure, I'm not working at Tia's office (untuk mengetahui tokoh ini, disarankan untuk membaca Walk Interview). Now I'm just an employee from one of an automobile industry in Indonesia, based on North Jakarta.

Kurang lebih 15 menit yang saya butuhkan sampai akhirnya dapat melangkahkan kaki dengan tenang menuju pintu gerbang perhelatan akbar tersebut, meninggalkan mini jeep saya yang terparkir nun jauh di sana. Setelah memasukkan amplop (yang saya yakin isinya cuma senilai kwaci bagi pasangan tersebut), mengisi daftar hadir dan mengambil souvenir yang dengan ramah diberikan oleh penerima tamu (pretty enough, but not my type), saya menyusuri elevator yang menuju ke lantai II, tempat acara tersebut diselenggarakan.

Antrian tamu yang hendak memberikan selamat telah mengekor panjang dengan saya sebagai salah satu korbannya, dengan diiringi gending-gending Jawa yang terus mengalunkan nada-nada lembut daerahku. Di kejauhan tampak Linda, teman semasa SMA dulu, dalam rentangan waktu '92-'95 yang lalu, tampak cantik dengan busana daerah Jawa, sibuk menyalami para tamu sambil sesekali menyeka keringat yang menetes di dahinya. Di sampingnya tampak suaminya yang terlihat cukup gagah. Yah.. mereka berdua nampak sangat berbahagia malam ini.

"Ryo.., ma kasih yah mau dateng, kapan nih mau nyusul? kok sendiri?", berondong Linda saat dengan lembut kusalami mereka di pelaminan. Saya hanya mampu membalasnya dengan tersenyum. Hhmm.. menikah? bahkan memikirkannya pun tidak. Dalam dua atau tiga bulan lagi usiaku akan menginjak 24, ah.. masih ada waktu cukup untuk bermain-main, melihat semua silau dunia sebelum pada akhirnya saya akan memutuskan untuk menetap dalam pelukan kedamaian seorang wanita.Kok sendiri? Pertanyaan itu yang masih menggayut di telingaku, saat satu persatu anak tangga pelaminan kuturuni. Seakan-akan dipurukkannya diriku dalam jurang kesunyian. Even an advounturer feels so lonely sometimes, seperti saat ini dimana diriku merasa sangat sendiri di tengah keramaian para tamu undangan. Hhh.. sesak juga rasanya jika sisi sentimentil ini sedang terusik.

"Ryo.. ini kamu? Apa kabar?", tiba-tiba sebuah suara wanita menghentakkan lamunanku, membangkitkan kembali diriku dari kesunyian yang baru saja kualami. Sejenak saya palingkan wajah mencari sumber suara tersebut. Rasanya pernah sangat mengenalnya. Terus kutelusuri wajah para tamu sampai akhirnya aku tertumbuk pada sesosok wajah yang cantik, lembut and of course, I'll never forget. Revy, sahabatku di SMA dulu, tampak sangat anggun dengan kebaya modern bernuansa silver transparan yang dikenakannya. Revy.. is that really you?

Tiba-tiba ingatanku terlempar pada beberapa tahun silam. Revy.. sebuah nama yang masih saja membekas hangat dalam setiap jejak ingatanku. Masih segar dalam ingatan bagaimana lekatnya kami berkawan semasa menempuh pendidikan di tahun terakhir kami pada sebuah SMA favorit di bilangan Slipi Kemanggisan dulu. Tidak ada seorang pun yang percaya bahwa kita tidak terlibat cinta. You're both too close to be friends, there must be something special between you, dan masih banyak lagi yang nyata terngiang tuduhan dari teman-temanku dulu akan hubunganku dengan seorang Revy. Jujur di dalam hati pun saya pernah memimpikan hal yang sama terjadi. Yah.. saya memang hanya manusia biasa, yang terkadang sulit mengontrol perasaan dan harapan kala mana berdekatan dengan sesosok lawan jenis yang sangat kita kenal dan terasa sangat mengenal kita. Tapi pada akhirnya saya memilih untuk mendiamkan perasaan itu lewat, sambil "membunuh" benih-benih rasa yang terlanjur tumbuh. Saya tidak akan pernah bisa kehilangannya sehingga jika saya tidak dapat memilikinya lebih dari sekedar teman, biarlah saya memilikinya sebagai seorang sahabat. Masih banyak lagi alasan mengapa saya memilih untuk tidak mengungkapkan perasaan saya terhadapnya. In fact, we live in different world.

Revy adalah anak dari sebuah keluarga yang dapat di bilang sebagai konglomerat yang berkedudukan di Surabaya. Memang Revy tidak pernah mempermasalahkan hal tersebut, bahkan dia akan marah besar jika ada yang menyinggung masalah tersebut. Namun saya juga harus tahu diri, biar bagaimanapun kesenjangan kelas sosial mau tidak mau akan menjadi kendala bagi berjalannya suatu hubungan, apalagi dalam usia remaja seperti kita. Di lain pihak, seusai bangku SMA, ia merencanakan untuk menuntut ilmu di Wina, Austria. Interior Design yang menjadi impiannya selama ini akan ditimbanya di negeri itu. And I don't belive in long distance relationship, not a second..!! Dan memang kabar terakhir darinya adalah ketika aku melepasnya di boarding gate Bandara Soekarno-Hatta di suatu malam, lima tahun yang lewat. Kami berpelukan erat, sepertinya tidak akan pernah bertemu lagi. Wajahnya perlahan menghilang di kerumunan penumpang lain yang siap berangkat. Dan wajah itulah yang sekarang hadir lagi di hadapanku.

"Ryo.., kok malah bengong? Masih inget saya nggak?" sapa Revy ramai menyapaku. Ah.. tentu saja saya ingat, peri kecilku. Tentu saja saya ingat kamu.
"Revy..?" balasku tertegun, tidak mempercayai kehadirannya di hadapanku kini.
"Of course.. who else?", seru Revy sambil meninju bahuku, "Siapa lagi temanmu yang secantik ini, hah?", katanya lagi. Huh.. pede sekali, tapi memang harus kuakui.
"Apa kabar Rev?" balasku sambil menyalami hangat tangannya. "Lho kok sendiri, cowok kamu mana?", tanyaku cepat saat menyadari lingkaran berwarna keemasan melingkar di jari manis kirinya. Ingin rasanya memeluknya, kalau saja..
"Mas Heru lagi nggak ada di Indo. Eh.. tau dari mana kamu saya punya cowok?" sahutnya tersadar kalau identitasnya terbongkar.
"Ah.. wanita mana lagi yang mengenakan cincin emas di jari kirinya, kalau bukan pemberian seorang pria spesial," todongku sambil cuek.
"Oh iya.. yah.., eh kamu kok juga sendiri, cewek kamu mana?", balas Revy nggak mau kalah.
"Saya memang masih sendiri kok, masih setia menantimu di ups.." saya tidak mampu menyelesaikan kalimat, keburu sebuah cubitan mendarat di pinggangku.
"Hhh.. gemes.. masih aja kayak dulu, ngegombalnya nggak ilang ilang," kata Revy sambil mengencangkan cubitannya di pinggangku. Tinggalah saya meringis-ringis menahan sakit, soalnya nggak mungkin teriak, banyak tamu sih.

Selanjutnya dapat ditebak, kami terlibat obrolan yang hangat dan akrab. Lima tahun tanpa kabar, dan kini tanpa sengaja bertemu di sebuah pesta pernikahan. Kabar si Anu, kabar si Itu, atau si Ini teman-teman kita dulu silih berganti mengisi topik pembicaraan. Seems just like yesterday.

Revy kini bekerja di sebuah konsultan interior design di kawasan Rasuna Said Kuningan, Jakarta. Tak jauh dari tempatnya tinggal, di sebuah kompleks apartemen yang terletak di belakang sebuah Hypermarket made in France, di daerah yang sama. Katanya menimba ilmu, pengalaman dan sense terlebih dulu, untuk nantinya membuka usaha serupa dengan modal sendiri, itu jawabannya yang diberikan kepadaku saat kutanya mengapa dia memilih untuk jadi "ekor naga", daripada menjadi "kepala ayam". Mas Harry, kakaknya semata wayang, kini sudah menikah dan dikaruniai seorang putra, menempati rumah mereka dulu di kawasan Puri Indah. Dan sebagai gantinya, Revy dibelikan sebuah unit apartemen yang ditempatinya hingga kini. Dan Mas Heru, lelaki yang berhasil melingkarkan cincin itu, adalah tunangannya sejak setengah tahun yang lalu. Ia kini sedang menyelesaikan kuliahnya di Boston, USA. Mereka telah 3 tahun berkenalan, walaupun baru berpacaran setahun yang lalu. Medio tahun depan mereka merencanakan untuk menikah, segera setelah Heru menyelesaikan studinya. Kami terus berbincang akrab, tanpa sadar jumlah tamu yang makin berkurang karena hari beranjak malam. Dengan berat hati, akhirnya kami berpisah. Sempat kuantarkan Revy menuju parkir mobilnya, sebelum akhirnya kita benar-benar berpisah.

Jakarta, 20 November 2000, 12:06 PM
Saya sedang menikmati santap siang di kantor, berkumpul dengan rekan-rekan kerja saat tiba-tiba teleponku berbunyi, dengan nama Revy terpampang di LCD-ku. Segera aku menyingkir dari meja sambil menjawab telepon.
"Halo.. Ryo?" terdengar suara wanita di ujung sana.
"Yup.. Apaan Rev?" balasku segera.
"Eh Ryo.. sibuk nggak ntar sore?" tanyanya kembali.
"Ntar sore? Hhmm.. nggak tuh kayaknya," jawabku, "Assiikk.. mau nraktir yah?" sambungku dengan pedenya.
"Huh..ge-er.." sahutnya cepat, "Revy cuman mau ngajakin nomat, abis lagi suntuk nih Ryo."
Nomat adalah singkatan dari nonton hemat, dimana setiap hari Senin kita mendapat potongan harga untuk membeli tiket.
"Boleh tapi di mana?" tanyaku lagi.
"Biasa.. di tempat bersejarah kita dulu, masak sih kamu udah nggak ingat masa-masa indah kita berdua.. hahahaha.." sambungnya diiringi gelak tawa candanya, "Revy tunggu di tempat biasanya, 5:30 teng yah.."

Kami masih sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum ia menutup teleponnya. Tempat bersejarah? Ah.. lamunan saya kembali menyusuri jejak waktu yang telah berlalu sekian lamanya. Pondok Indah Mall adalah tempat favorit kami untuk jalan-jalan semasa sekolah dulu. Revy bilang barangnya bagus-bagus, sedangkan menurut saya yang terbaik dari tempat itu adalah pengunjung wanitanya yang cantik-cantik, hahaha.. Entah sudah berapa kali kami jalan bersama ke tempat itu. Nonton, main game (ding-dong tepatnya), makan, atau sekedar ngeceng. Beberapa kali pula kami tertangkap datang oleh teman-teman yang lain, sehingga makin meyakinkan mereka kalau kami tengah berpacaran. Dating? ah.. mungkin itu hanya harapan saya yang kelewat batas menganggap even-even itu sebagai datang.

Waktu menunjukkan jam 17:24 WIB ketika saya melangkahkan kaki memasuki area pertokoan tersebut. "Tempat biasa" yang Revy maksud tentunya masih seperti yang dulu, tempat kita sering nongkrong bareng. Outlet St. Michael di lantai dasar, bersebelahan dengan Baskin 31 Ice Cream pasti yang dimaksudnya. Dulu kita sering nongkrong makan ice cream sambil memandangi produk-produk St. Michael dari luar kaca. Hahaha.. terasa betapa masih kecilnya kami saat itu.

Seulas senyum telah menyambutku, sesampainya aku di sana. Revy telah tiba terlebih dulu, dan masih seperti dulu, tengah asyik menikmati sebuah cup ice cream rasa strawberry sambil bersender di dinding outlet pakaian tersebut. Setelah berbincang-bincang sambil menantinya menghabiskan sisa ice cream, kami pun naik ke lantai teratas untuk melihat film apa yang sedang diputar. Pangsit goreng, mie bakso dan sebotol teh dingin. Masih saja seperti dulu makanan fave-nya kalau sedang main ke PIM. Restaurant spesialis mie yang terletak tepat di seberang sineplex masih saja kena di lidahnya, pun setelah bertahun-tahun di negeri orang. Kami makan agak tergesa, karena Charlie's Angel akan ditayangkan tidak lama lagi.

Waktu sudah malam, ketika Cameron Diaz, Drew Barrymore dan Lucy Liu menyelesaikan aksinya di film dan memaksa kita untuk pulang. Seperti kemarin, kuantarkan kembali Revy menuju mobilnya. Kita menjadi semakin akrab, seperti seorang anak kecil yang tidak mau lepas dari mainan favoritnya yang telah lama menghilang. Yah.. Revy memang telah lama menghilang dari hidupku, dan entah kini apa maksud-Nya mempertemukannya kembali denganku.

Bersambung . . . . .