Putri Keraton - 1

Bookmark and Share
Panas terik di jalan lurus beberapa kilometer memasuki kota Cirebon tidak menghalangiku untuk terus memacu kendaraan dengan kecepatan cukup tinggi dari arah ibukota pada siang hari itu.

..demikian, yach sambil istirahat setelah seharian nyangkul begitu, suara centil manja itu memancar dari frekuensi radio komunikasi yang terus kubuka dari tadi sambil menscan frekuensi yang sedang dipergunakan.

Segera kumatikan modul scan di pesawatku agar tetap dapat memonitor frekuensi tersebut..

Jadi sekarang sudah di 85 correct? suara seorang pria sejurus kemudian yang meminta konfirmasi apakah sudah ada di rumah
10-4, kembali suara manja itu menjawab yang berarti membenarkan
Wah.. wah.. wah.. wah.. sudah banyak duitnya nich siang begini sudah ada di rumah, kembali sang pria menimpali..
Ya ngga jugalah.. duit mach tetap butuh.
Break, sahutku menyela pembicaraan di antara spasi
Kirain sudah punya banyak duit.. ya dibagi-bagi ke sini, sahut pria tersebut
Mas, ada yang mau masuk tuch silahkan di handle dulu sayanya 10-23 sebentar, suara centil manja tersebut menginformasikan kehadiranku kepada rekannya..
Yang break silahkan masuk,
Selamat siang.. di sini Elmo Mas dalam line bergerak menuju Cirebon, sahutku segera memperkenalkan diri
Selamat siang juga yang handle di sini Boom.. darimana hendak ke mana Mas?
Dari Kotaraja menuju ke Cirebon gitu, penjelasanku padanya
Silahkan dipergunakan frekuensinya mungkin ada sesuatu yang ingin di sampaikan, sahutnya memberikan kesempatan padaku
Oh.. tidak ada Mas cuma ingin nimbrung saja, sehubungan klo ngga ada yang ada di ajak bicara sayanya suka ngantuk nich.
Emang berapa personil di gerobak dan dalam rangka apa nich? Liburan begitu..?
Negatif Mas.. dalam rangka dinas begitu dan di gerobak sendiri saja, makanya perlu teman ngobrol begitu
Mas Elmo.. Boom kembali di sana ada lowongan ngga Mas klo ada boleh donk ajak-ajak saya, pintanya
Hmm.. anda itu memakai kacamata ngga? apakah penglihatannya masih cukup jelas? tanyaku padanya
Masih.. masih jelas, tidak memakai kacamata.
Pendengaran gimana, baik atau sudah menggunakan alat bantu?
Masih baik.
Rambut.. apakah sudah memutih?
Ya.. Mas, rambut mach masih hitam semua belum ada yang putih umur juga baru kepala 2, sahutnya kembali menegaskan
Berarti masih kuat lari betul?
Betul.. ngomong-ngomong mau dikasih kerjaan apa sich koq bertanya begitu..?
Lha.. saya ini khan raja maling, makanya saya bertanya itu supaya memenuhi persyaratan.. mata harus awas, supaya saat kebagian tugas jaga bisa mengawasi klo-klo ada hansip atau ronda lewat, telinga harus baik biar saat tugas buka gembok atau kunci tetap bisa mendengar suara klo ada yang mau nangkap, rambut juga harus hitam biar bisa sembunyi dalam kegelapan ngga ketahuan.. dan terakhir ya harus bisa lari cepat klo ketahuan.. klo ngga khan ya ketangkep begitu.. dik jelasku padanya..
Hahaha.. hahahaha.. hahahaha.., suara centil manja itu kembali berkumandang
Ujug buneeng.., Boom tertawa kecil juga..
Ya.., salam kenal juga buat Mas Elmo yang sedang dalam perjalanan hati-hati semoga selamat sampai di tujuan, katanya menyalami ku..
Salam kenal juga semoga sehat selalu.. klo boleh tahu siapa nich yang handle? tanyaku pada pemilik suara centil manja itu..
Di sini Vera gitu Mas Elmo.
Vera.. Elmo kembali.., iya dach salam buat keluarga yang di rumah semoga sejahtera selalu.
Mas Elmo kayanya.. humoris yach.
hahaha.. yach tergantung situasi begitu neng Vera, kadang serius kadang bercanda juga, klo serius terus mach bisa mati muda nanti
Berapa lama begitu Mas di kota udang?
Rencana sich cuma seminggu aza, .. tapi lihat nanti aza dach.
Sudah sering ke Cirebon gitu Mas Elmo?
Jarang juga.., .. ngomong-ngomong apa yach makanan yang khas dan enak gitu?
Hmm.. di sana ada nasi lengko, ada juga nasi jamblang.. trus empal gentong juga enak.. sama tahu gejrot dach, sahutnya berpromosi
Klo siang-siang begini enaknya makan apa yach..?
Itu aza Mas Elmo.. nasi lengko yang ada di xx, informasinya..
Terimakasih atas informasinya.. mau ikut menemani? ajakku padanya
Lain kali dech Mas Elmo.. sekarang sich saya sedang sibuk.
Oh ya sudah.. mudah-mudahan lain kali kita bisa kopi darat begitu.
Harapan Vera juga begitu yach.. hati-hati sajalah.. jadi makan siang di sana?
Yup, .. dan terimakasih nich atas obrolannya siang hari ini yang telah menemani saya hingga masuk ke Cirebon.
Sama-sama.. Vera juga senang bisa ngobrol dengan dirimu dan silahkan masuk ke frekuensi ini lagi klo ada waktu, ajaknya manja..

Demikianlah sepenggal pembicaraan siang hari itu, dan sesungguhnya apa yang dikatakan Vera itu tidaklah salah memang tempat makan yang ditunjukkan adalah favoritku juga dan itu tidaklah asing oleh karena cukup sering saya mengunjungi kota Cirebon ini.

Nasi lengkonya 1 porsi Mas, pintaku di pintu masuk sesaat setibanya di sana
Kemudian kupilih salah satu meja yang kosong di tengah
Minumnya apa Mas Elmo? tanya suara halus dari belakang
Kontan saja aku terkejut oleh karena tidak banyak yang mengenal namaku demikian dan dalam diamku kemudian dia menyodorkan tangannya
Vera, seraya tersenyum manis
Oh.. ugh.. oh, aku tergagap mendapat kejutan seperti itu

Sungguh tak ku kira kini di hadapanku hadir seorang wanita berkulit putih dengan rambut tergerai sedikit melewati bahu dan postur tubuh yang cukup tinggi untuk ukuran orang Indonesia namun berimbang.

Koq.. bengong aza, ujarnya mengingatkanku
Abis.. ada bidadari sich.. yuk silahkan duduk, sahutku seraya menggeser tempat duduk dan mempersilahkannya untuk berada di sampingku
Koq tahu mengenai aku? tanyaku setelah dia duduk
Yach khan katanya jadi makan di sini terus tadi aku sudah tiba duluan dan lihat mobil kamu yang lengkap dengan antenenya trus plat nomornya juga B, sahutnya seraya memonyongkan bibir tipisnya..

Demikianlah siang itu akhirnya aku makan siang bersama denganVera yang hingga usai santap siang tersebut belum bersedia untuk mengungkapkan nama sebenarnya dan akupun tidak memaksanya, sebaliknya saat dia minta no HPkupun tidak kuberikan.. wah bisa berabe boo, kalau pas dia telp nantinya pada saat aku bersama istriku.. bisa perang dunia.. namun aku informasikan di mana aku bermalam nantinya.

Begitulah, ketika jarum jam menunjukkan pukul 23. 15 telp di kamarku berdering, ternyata Vera yang menghubungiku.. dan membuat janji untuk kembali berjumpa esok harinya..

Tanpa terasa beberapa hari telah berlalu dan hampir setiap santap siang kulakukan bersama dengan Vera, sedangkan malam hari tidak kulakukan sehubungan dengan tugas yang harus kukerjakan bersama anak buahku untuk mengunjungi klien. Pekerjaankulah yang menuntut demikian, yaitu sebagai sales manager dari sebuah perusahaan farmasi sehingga pada malam hari aku harus mengunjungi dokter dan berbicara banyak mengenai produk dan hal lainnya, terkadang baru usai lewat tengah malam terutama bila harus berkunjung kepada dokter yang memiliki pasien banyak sehingga baru usai pada dini hari.

Kapan kau kembali? tanyanya suatu saat setelah beberapa hari ini kita hampir selalu makan siang bersama
Lusa nich, besok masih masih ada beberapa urusan kantor lagi yang harus kukerjakan, sahutku
Oh.., ada nada kecewa yang dapat kutangkap..

Entah tanpa terasa dalam waktu yang demikian singkat hubunganku dengan Vera nampak sangat akrab dan dekat sekali, walaupun sesungguhnya akupun masih gelap mengenai kehidupan pribadinya yang kutahu hanya sosok dia yang aku kenal apa adanya tanpa melihat kehidupan pribadinya sebaliknyapun demikian, ..

Nanti malam masih kerja juga? tanyanya masih ada nada protes
Hgh.., aku terhenyak dengan pertanyaan semacam itu yang menurutku sudah terlalu dalam terbawa emosi

Sambil tersenyum menggoda, Kenapa.. mau ngajak kemana emangnya?
Jalan yuk.., ajaknya
Kemana..? tanyaku
Ada waktu ngga?
Ntar malam begitu? tanyaku bingung
Iyalah.. emangnya kapan lagi?
OK.. aku jemput di mana nich? tanyaku kemudian..
Hmm di sini dech.. jam 5an yach, jawabnya seraya menulis suatu tempat di atas kertas yang kemudian di serahkannya padaku..Nanti tunggu aza di halaman parkir ngga usah masuk, pintanya kemudian

Ternyata tempat yang diberikan adalah nama sebuah bank pemerintah yang cukup besar di kota ini, entah apa jabatannya di sana namun penekanannya yang terakhir memberikan arti bahwa dia adalah salah seorang karyawan di sana.

Sekitar jam 5 sore aku telah tiba di tempat kerja Vera dan lahan parkir sudah cukup lenggang, kemudian aku parkir di tempat teduh yang agak terlindung dari pandangan pos satpam maupun pintu keluar masuk gedung tepatnya dekat dengan bilik ATM sehingga tidak mengundang banyak kecurigaan orang lain.
Tak lama Vera keluar dan segera masuk ke dalam mobilku..

Yup.. jalan.., sesaat setelah masuk ke dalam mobil..
Kemana? tanyaku bego..
Bawalah daku pergi.., senandung centilnya keluar lagi..
Dari derita ini.., timpalku menyambut senandungnya.. dan kamipun tertawa tergelak pada sore hari itu.
Dalam keraguan itu akhirnya aku arahkan saja kendaraanku menuju ke arah kota Tegal masuk ke Jawa Tengah dengan kecepatan sedang, pemikiranku klo aku bawa dia masuk ke daerah Kuningan seperti Linggarjati misalnya rasanya terlalu riskan mungkin akan banyak orang yang mengenalnya oleh karena kota Cirebon ini khan kecil banget.. segala sesuatunya mudah tersebar.. bisa berabe nantinya..

Kemana..? tanyanya setelah kami sempat terdiam cukup lama dan sibuk dengan pemikiran masing - masing
Ke arah Tegal aza yach.., saranku
Hhhmm.. ok, sahutnya menyetujui saranku

Kembali kami tenggelam dalam lamunan masing-masing dan kemudian terbersit dalam ingatanku untuk mengajaknya ke Comal, di sana khan ada rumah makan dengan masakan khas kepitingnya yang sangat lezat.

Kita makan kepiting yach.., aku memecah keheningan
Boleh.. di mana?
Pernah ke Comal ngga..? di sana ada rumah makan yang masakan kepitingnya enak lho, promosiku..
Belum pernah nich.
Kenapa sich kamu.. sakit gigi yach? tanyaku dengan nada bergurau..Abis ngomong cuma sepotong-potong gitu.
Ach.. Mas Elmo bingung dan malu nich soalnya belon pernah pergi kaya gini nich, suaranya bergetar manja..

Aku hanya tersenyum saja dan sempat kuperhatikan kembali sebuah cincin melingkar di jari manis kanannya

Emang suami kamu ngga pernah ngajak pergi berdua untuk makan malam bersama gitu? tanyaku dengan gaya yakin yang seyakin-yakinnya
Pernah sich, akhirnya Vera mulai mengungkapkan kehidupan pribadinya..
Trus sekarang suami kamu mana? Koq ngga diajak sekalian?
Mas Bram.. masih di Jakarta, sudah seminggu.. mungkin lusa baru kembali.
Oh..
Dinas, lanjutnya kembali
Sudah punya putra berapa? lanjutku kemudian

Vera hanya menggeleng perlahan dan ada setitik air mata yang bergulir di sudut matanya, namun segera di hapusnya perlahan.. sambil menghela nafas panjang

Sudah berapa tahun sich kamu menikah?
Jalan 7 tahun, sahutnya perlahan dengan nada lembut dan bergetar menahan emosi
Hhmm.. sudah konsultasikan ke dokter? aku terus mengejarnya
Sudah.. dari diriku semuanya normal.
Trus suami kamu?
Tidak tahu, jawabnya singkat..

Kembali kami terdiam dalam renungan yang dalam sementara lampu penerangan jalan sudah mulai menyala menambah sendunya suasana sore hari ini.

Mas Bram adalah lingkaran dalam keraton Kxx, dan layaknya keluarga ningrat mereka selalu menyalahkanku yang tidak mampu memberikan keturunan buat mereka. Dahulu kami tinggal di dalam keraton, namun sekarang tidak lagi sebab saya tidak tahan dengan perlakuan mereka, namun saya juga tidak bisa memaksa Mas Bram untuk berkonsultasi ke dokter.., keluhnya dengan nada kelu dan tertekan..

Apakah kamu pernah meminta suamimu untuk memeriksakan dirinya? tanyaku melanjuti
Tidak mungkin Mas, dalam keluargaku istri harus tunduk pada suami dan yach itulah takdirku, bicaranya mulai tak jelas dan berakhir dengan ledakan tangisnya

Kubiarkan Vera menangis untuk menumpahkan kegundahannya hanya saja kuberanikan diri untuk mulai mengusap rambutnya dan berusaha menenangkannya.. usapan lembut dan penuh kasih sayang itu dapat menenangkan emosinya. Tanpa terasa kota Tegalpun sudah tertinggal di belakang dan 2 jam telah berlalu hingga kami tiba di tempat yang dituju dan suasana rumah makan yang temaram dengan lampu penerangan secukupnya menambah romantisnya suasana malam itu, sementara pikirankupun terus bermain entah apa maksudnya Vera menceritakan semua hal itu terlebih dengan upayanya untuk mengajakku kencan malam hari ini. Instingku mengatakan Vera menginginkan benih dariku untuk menyemai rahimnya yang tidak pernah tersentuh benih hidup yang membuktikan jati dirinya sebagai wanita.

Sikapku yang mesra dan gentle seperti membukakan pintu mobil tadi saat dia masih sibuk memperbaiki dandannya di mobil kemudian menarikkan kursi untuk Vera duduk, dapat sedikit menghilangkan kekakuan sikap kami bahkan sudah mirip seperti sepasang merpati yang sedang memadu kasih terlebih daerah yang kumasuki ini tidak banyak berhubungan dengan tempat tinggal Vera sehingga lebih memudahkan kami untuk beradapatasi.

Selesai santap malam, kembali sikap gentle kutunjukkan dengan membukakan pintu mobil baginya dan Vera membalas dengan senyum manisnya, dan sebuah kecupan tipis mendarat di pipiku sesaat setelah aku duduk di belakang kemudi.

Thanks yach, ucapnya lembut dengan mata sendunya
Aku hanya tersenyum dan membalas dengan mengusap lembut pipinya.. Kemudian kuarahkan mobilku untuk kembali menuju ke kota Tegal dengan satu tekad yang berkecamuk di benakku untuk dapat meniduri Vera malam hari ini. Tidak sulit bagiku untuk mendapatkan hotel yang terbaik di kota ini oleh karena memang bagian tugas dariku untuk harus berkeliling sehingga hubungan bisnis perusahaanku dengan hotel cukup baik sehingga tidak sulit untuk mendapatkan kamar yang kumau. Satu hal yang mendukung rencanaku juga adalah Vera tidak bertanya dan nampaknya diapun siap untuk menerima resiko tersebut, sementara pikiranku berencana demikian peniskupun sudah tidak mau kompromi lagi dengan mengembang maksimal sehingga ada juga rasa nyeri

Bersambung . . . .