Ling Ling - 1

Bookmark and Share
Ling Ling termasuk anak yang rajin. Setiap habis ada pertemuan di markas kelompok pecinta alam tersebut, ia selalu menyingsingkan lengan bajunya untuk ikut membereskan segala sesuatunya, bahkan termasuk mengangkat barang-barang yang cukup berat. Itu tidak menjadi problem yang berarti baginya. Ling Ling memang amat kelaki-lakian. Jika dilihat sekilas, hampir tidak ada tanda-tanda pada dirinya yang menunjukkan bahwa dia itu sebenarnya perempuan. Buah dadanya termasuk hampir rata, hanya menampakkan lengkungan kecil saja di dadanya jika ia sedang memakai kaos oblong. Pinggang dan pantatnya pun tidak kalah ratanya dengan buah dadanya. Pokoknya Ling Ling lebih pantas menjadi laki-laki daripada seorang perempuan. Bahkan pertama kali aku mengenalnya waktu hari pertama di kelas satu, aku heran melihatnya. Aku melihatnya anak laki-laki aneh yang selalu menggunakan pakaian seragam wanita, blous putih dan rok pendek abu-abu. Cuma suaranya saja yang kecil yang menandakan ia masih termasuk kategori cewek. Itu pun terdengar galak dan tegas.

Suatu waktu, kelompok pecinta alam sekolahku di mana aku dan Ling Ling bergabung di dalamnya berencana untuk mengadakan acara mendaki gunung di Gunung Salak, Jawa Barat. Setiap kelas diminta untuk mengirimkan minimal dua orang wakilnya. Aku dan Ling Ling mengikuti acara tersebut sebagai wakil kelas II A1-2. Pada hari yang ditentukan berangkatlah seluruh peserta acara tersebut ke tempat tujuan.

Hari pertama di tempat tujuan, sebelum mendaki, seluruh peserta beristirahat sejenak di kaki gunung dengan hanya menggelar sleeping bag atau kasur gulung saja sebagai alas. Saat itu masih siang. Menjelang sore baru kami semua berangkat. Pendakian hari itu memang ditujukan untuk melatih para peserta mendaki gunung di malam hari. Udara yang sangat dingin begitu menusuk tulang, meski jaket yang cukup tebal sudah melekat di badan. Tapi benar saja. Rasa dingin itu berangsur-angsur lenyap saat kami mulai berjalan melewati jalan setapak yang tersedia. Malah berubah menjadi hangat sewaktu jalan mulai menanjak cukup tinggi.

Aku, Ling Ling dan beberapa orang lagi kebetulan berada di rombongan paling belakang. Ling Ling berjalan paling buncit di belakangku. Walau aku sudah berulang kali mempersilakannya untuk berjalan di depanku, namun ia tetap berkeras tidak mau mendahuluiku. Aku yang tidak enak hati membiarkan cewek berjalan paling belakang tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Aku mengenal sifat Ling Ling yang keras kepala. Begitu ia memutuskan sesuatu, tak akan pernah ia mengubahnya meski dibujuk rayu bagaimanapun caranya.

Kami mulai terengah-engah. Nafas rasanya hampir habis dipaksa berjalan dengan cepat. Kami semua mendekati sebuah tanjakan cukup terjal. Di kiri kanannya terdapat jurang. Tidak terlalu dalam memang, tapi cukup menakutkan dalam gelapnya malam. Aku menoleh ke belakang. Kulihat Ling Ling tetap tegar. Tak ada rasa ragu atau gentar sedikitpun dalam dirinya. Aku kagum padanya. Sebenarnya, hatiku sedikit kecut juga. Belum pernah aku mendaki gunung di waktu malam. Seram rasanya melihat kegelapan di mana-mana di sekelilingku. Cuma lampu senter yang dibawa masing-masing peserta saja yang menjadi penerang.

Akhirnya kami tiba di tanjakan terjal tersebut. Hampir semua para peserta melongo melihat tingginya sudut kemiringan tanjakan itu. Tetapi bagaimanapun juga, kami tetap harus mendakinya, meski dengan sudah payah.

"Kresek.. Gedubrak..!" Aku berhenti berjalan, terkejut mendengar suara itu dan menoleh ke belakang. Ternyata di belakangku sudah tidak ada siapa-siapa lagi. Ke mana si Ling Ling? Kucoba melihat dalam gelap ke awal tanjakan. Samar-samar kulihat ada yang bergerak-gerak di bawah sana. Kusorotkan lampu senterku ke arah itu. Ternyata kulihat Ling Ling yang sedang terduduk dengan mengurut-urut pahanya sambil meringis-ringis kesakitan. Tanpa mempedulikan para peserta lainnya di depanku yang sudah cukup jauh di depan, aku berbalik arah dan memburu turun tanjakan kembali ke tempat Ling Ling berada.

"Ling Ling! Kamu kenapa, Ling?" Aku bertanya kepada Ling Ling ketika sudah sampai di bawah.
"Kaki saya nih, Ron. Agak keseleo", jawabnya.
"Aduh. Celaka juga. Bagaimana ya?"
"Aduh!" Ling Ling mengaduh kesakitan.
"Kamu bisa jalan nggak, Ling."
"Kita coba deh. Kamu bantuin saya ya, Ron."

Akhirnya aku membantu Ling Ling bangkit berdiri. Setelah susah payah akhirnya berhasil. Aku memapahnya, mencoba berjalan. Tetapi Ling Ling tambah meringis-ringis. Sialnya lagi, hujan gerimis mulai turun. Aku jadi bingung mau berbuat apa, tapi Ling Ling tetap kelihatan tenang. Sialan! Gara-gara dia, aku jadi bingung seratus keliling, tapi dia malah tenang saja, gerutuku dalam hati.
"Ling, kayaknya hujannya tambah deras aja. Mendingan kita cari tempat untuk berteduh dulu ya."
"Terserah kamu deh, Ron."

Di tengah hujan yang semakin deras, aku dan Ling Ling mencari-cari tempat yang cocok untuk berteduh sambil menunggu hujan reda. Setelah mencari cukup lama di bawah derasnya air hujan, akhirnya aku menemukan sebuah goa yang cukup lapang yang kira-kira luasnya cukup untuk menampung sepuluh orang tetapi pintu masuknya agak tersembunyi dan sulit ditemukan dalam gelap. Kami berdua masuk ke dalam goa tersebut.

Aku mencari-cari dalam ransel anti air yang kubawa barang-barang yang kira-kira bisa kupakai di situ. Aha! Kutemukan geretan gas dan sebatang lilin. Kunyalakan lilin itu dan kuletakkan di suatu tonjolan di dinding goa. Lumayan, cukup terang untuk menerangi dalam goa tersebut. Aku melihat ke arah Ling Ling. Kasihan sekali dia. Ling Ling tampak menggigil kedinginan. Aku dan dia sama-sama memakai jaket anti air. Tetapi jaket Ling Ling terkoyak cukup lebar sewaktu jatuh tadi. Dan akibatnya pakaiannya jadi basah kuyup, sedangkan pakaianku sendiri aman-aman saja, hanya basah sedikit.

Aku tak tega menyaksikan Ling Ling kedinginan seperti itu karena mengenakan pakaian yang basah kuyup. Akhirnya aku mengusulkan agar ia membuka semua pakaiannya yang basah dan sebagai penggantinya, ia kupinjami jaket tebal yang kupakai. Mula-mula Ling Ling kelihatannya ragu-ragu harus membuka pakaian di depanku. Tetapi setelah aku membujuknya dan berulangkali kujelaskan bahwa aku tak bermaksud buruk padanya, ia mau. Akhirnya dengan berdiri membelakangiku, Ling Ling mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang dikenakannya di bawah temaramnya cahaya lilin sebatang, setelah melepas sepatu ketsnya. Aku sebenarnya tidak bermaksud menontonnya, tetapi karena hanya di tempat itu yang terang, mau tak mau aku memandang ke arahnya juga.

Pertama-tama, Ling Ling memberikan jaketnya yang sobek kepadaku. Kemudian ia melepaskan sweater dan kaos oblong yang dipakainya. Aku terpukau sejenak melihat tubuh bagian atasnya yang putih dan kulitnya yang mulut dengan hanya mengenakan BH berukuran kecil. Dengan menutupi dadanya yang hampir terbuka dengan tangan, Ling Ling membalikkan badannya dan melemparkan pakaiannya itu padaku. Aku membalasnya dengan memberinya jaketku yang cukup tebal dan bagian dalamnya masih kering. Setelah menerima pemberianku, Ling Ling berbalik badan lagi, kembali membelakangiku. Lalu ia membuka tali BH-nya dan menanggalkan penutup buah dadanya itu.

Sewaktu ia hendak memakai jaket pemberianku, tiba-tiba jaket itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah. Ling Ling membungkuk ke samping. Dari terangnya cahaya lilin, aku melihat buah dadanya. Ukurannya memang kecil, cuma sebesar buah dada anak SD. Tetapi kulihat ujungnya runcing dan puting susunya berukuran lebih kecil sedikit daripada ukuran penghapus di ujung pensil. Ling Ling tidak menyadari bahwa aku sedang memperhatikan tubuhnya yang setengah telanjang.

Sesudah memakai jaketku, lalu Ling Ling berjongkok sedikit untuk membuka celana panjang dan celana dalamnya. Kusaksikan di depan mata kepalaku sendiri pantatnya yang tidak montok tapi mulus dan putih. Barangkali akibat cahaya lilin yang remang-remang, tubuh Ling Ling yang sebenarnya bukan tipe bentuk tubuh idamanku, kurasakan tampak sensual sekali. Dan itu sudah cukup untuk membuat kemaluanku berdiri. Sementara sekilas lewat sebuah pikiran jahat di otakku, yaitu untuk memperkosa Ling Ling. Untunglah, akal sehatku masih jauh lebih kuat.

"Kamu udah selesai, Ling."
"Udah, Ron. Terima kasih ya atas bantuan kamu."
"Don't mention it", jawabku.
"Tapi.. aduh.. duh.." Tiba-tiba Ling Ling mengaduh-aduh lagi ketika ia mencoba berjalan menghampiri tempat dudukku. Aku berdiri dan membantunya berjalan ke tempat dudukku itu yang kebetulan berada di tanah yang datar. Kubantu lagi Ling Ling untuk duduk di atas ranselku.
"Di mana yang sakit, Ling?" tanyaku.
"Di sini, Ron. Paha saya sakit banget nih. Keseleo kali ya?" sahut Ling Ling sembari mengurut-urut pahanya yang tampak mulai membiru. Aku menyentuh paha Ling Ling yang putih, namun aku langsung sadar dan menarik tanganku.
"Nggak pa-pa kok, Ron, kamu mengurut pahaku. Asal saja kamu nggak berpikiran yang macam-macam."

Akhirnya aku menuruti perkataan Ling Ling. Aku mulai mengurut pahanya dengan perlahan-lahan. Tiba-tiba ia berteriak kesakitan sewaktu aku mengurutnya terlalu keras. Karena rasa sakit itu, tanpa sengaja ia merenggangkan kedua kakinya. Dari cahaya lilin yang masuk ke dalam celah-celah di antara kedua pahanya yang merenggang itu, aku dapat melihat dengan samar-samar selangkangannya dengan seonggok warna kehitaman yang terletak di tengah-tengah selangkangan itu. Kemaluanku menjadi semakin berdiri. Untungnya, Ling Ling tidak mengetahuinya.

Karena aku takut kalau Ling Ling kesakitan lagi, aku mengurut pahanya dengan hati-hati. Bahkan saking pelannya, Ling Ling merasa itu bukan sebuah urutan lagi, melainkan sebuah elusan. Dan ini dirasakannya sungguh nikmat. Belum pernah dalam hidupnya, pahanya disentuh oleh laki-laki. Ini dibuktikan oleh desahan-desahan kecil yang keluar dari mulutnya waktu aku sedang mengurutnya. Bodohnya, aku tidak menyadarinya. Aku menganggap desahan-desahan ini hanya sebagai reaksi akibat rasa sakit pada pahanya saat kuurut. Tidak lebih dari itu.

"Gimana, Ling? Udah mendingan kan sekarang?" tanyaku setelah selesai mengurutnya.
"Iya, bener, Ron. Paha saya udah nggak begitu sakit lagi. Saya coba pake buat jalan ya."
Kubantu Ling Ling berdiri dengan hati-hati. Setelah ia berdiri, perlahan-lahan ia kulepas. Aku berdiri agak menjauh dari tempatnya. Kemudian aku memintanya mencoba berjalan ke arahku. Ling Ling dengan susah payah mencoba menggerakkan kakinya. Dengan tetap meringis-ringis, ia tertatih-tatih berjalan ke arahku. Kira-kira mencapai jarak tinggal setengah meter dari tempatku berdiri, tiba-tiba Ling Ling terhuyung-huyung dan langsung ambruk. Untung saja aku lebih cepat dan sempat menyambarnya sebelum ia jatuh mencium lantai goa.

"Aaiih.." Ling Ling mendesah ketika aku menangkap tubuhnya. Aku menjadi kaget. Astaga..! Ternyata aku tak sengaja mencengkeram buah dadanya. Memang terasa ada sesuatu yang kenyal di telapak tanganku, tapi aku tidak menyadarinya, sebab waktu aku menangkap tubuh Ling Ling itu adalah karena gerak refleksku.

"Ron, Ronny.. Lepasin dong.." Teriakan Ling Ling membuatku sadar. Ternyata karena aku kaget tadi, aku bukannya melepaskannya tapi malah mencengkeram buah dadanya semakin kencang. Kulihat wajahnya memerah. Aku melepaskan tanganku dari tubuh Ling Ling dan mencoba mengajaknya mencoba berjalan lagi. Aku mundur sedikit kira-kira satu meter. Ling Ling pun kembali tertatih-tatih berusaha berjalan menghampiriku. Lagi-lagi setelah ia sudah cukup dekat, tubuhnya sempoyongan, dan lagi-lagi aku berhasil menangkapnya. Tubuhnya langsung ambruk ke pelukanku. Dan wajahnya tepat berada di depan wajahku, cuma berjarak lebih kurang satu senti saja.

Sejenak aku dan Ling Ling saling memandang lama satu sama lain. Seperti ada yang menggerakkanku, terjadi suatu aliran yang aneh di dadaku. Tanpa sempat kucegah sendiri, bibirku sekonyong-konyong sudah menempel pada bibir Ling Ling yang masih pucat. Ling Ling mencoba melepaskan diri. Namun mengapa, semakin ia mencoba menghindar, semakin erat saja bibir kami menyatu. Akhirnya, ia tidak menghindar lagi, malah kelihatannya ia kini menerima bibirku dengan ikhlas.

Mengetahui penerimaan Ling Ling ini, gairahku pun timbul. Dengan berani aku mulai mengulum bibirnya yang setengah membuka. Sensual sekali disinari cahaya lilin yang remang-remang. Kulihat, Ling Ling pun tampaknya membalas kulumanku. Bahkan ia mengeluarkan lidahnya dan menjilati lidahku. Akhirnya bibir kami berdua saling memagut dan lidah kami saling menjilat. Kami melakukan 'french kissing' ini hampir selama 5 menit. Kami sudah tidak mempedulikan lagi temaramnya cahaya lilin, gelapnya malam, dinginnya udara, dan turunnya air hujan di luar goa yang semakin bertambah deras. Kami sedang terhanyut dalam nafsu birahi yang muncul secara mendadak. Terutama setelah pakaianku juga terlucuti semua.

Tanganku turun ke arah dada Ling Ling. Kutelusuri lengkungan kecil di dadanya melalui balik jaket. Ling Ling tampak menggelinjang kecil ketika jamahan tanganku mengenai suatu titik kecil di tengah-tengah lengkungan itu yang menonjol seukuran penghapus di ujung pensil. Kujilat benda mungil yang berbentuk pentil itu melalui kain jaket yang menutupinya.

Tidak sabaran, aku membuka zipper jaket yang dipakai Ling Ling. Setelah zipper itu terbuka setengahnya, aku merogohkan tangan ke dalam zipper itu, ke balik jaket. Ling Ling menggeliat dan mendesis sewaktu tanganku mendarat di dadanya. Dan ia mengulanginya lagi ketika buah dadanya kuremas. Buah dada yang kecil ukurannya tapi kenyal amat mengasyikkan bagi tanganku. Baru kali ini aku mendapat kesempatan memegang buah dada seorang wanita. Dan kebetulan wanita itu adalah Ling Ling, teman sekelasku.

"Aaahh.." desah Ling Ling lagi waktu aku mulai menggerayangi puting susunya yang langsung saja mengeras begitu terkena jamahanku. Seperti anak kecil menemukan mainan baru, kupermainkan puting susu Ling Ling yang kian bertambah keras. Semakin keras lagi, sejalan dengan semakin lincahnya tanganku memuntir-muntirnya. Dan semakin banyak pula, desahan yang keluar dari mulutnya. Gerinjal tubuhnya juga semakin menggila.

Bersambung . . . . .