Nani gadisku dari kampung - 7

Bookmark and Share
Tepat pada jalanan yang agak gelap, kusuruh Nani melucuti BH-nya saja sekalian dan memasukkan ke kantung belanjaan, "Sret.. sret.. sret.." lepaslah benda penghalang tanganku untuk bergerak lebih leluasa memperoleh kedua daging montok itu, karena kini hanya terhalang baju kaos longgarnya saja.

"Aduuh Mas, bener-bener nggak sabar sayaang.. pelan-pelan saja yaa, nggak enak dilihat orang..ahh geli Sayang.. eehhgg.." agak berbisik dia melenguh geli.
Kedua tanganku masuk dari kedua sisi belahan di bawah ketiak Nani meremas dan mejepit puting susunya sambil tubuhnya kupeluk rapat ke tubuhku, "Ehh.. Mas.. Nani geli banget.. Mas udah nggak sabar.. nekat juga bercumbu di jalanan.."
"Yah, rasanya aku sudah tidak sabar.. Sayang," kecupanku menutup bibir Nani.

Sesampainya di rumah segera saja Nani langsung masuk ke dalam kamar dan aku menyusul sewaktu Nani sedang mematut bra yang baru dibeli tadi. Saat itu Nani menyuruhku untuk duduk saja di dekat meja, sedangkan Nani duduk di depan meja rias. Dia hanya mengenakan celana dalam dan dada terbuka, sambil mengamati BH baru di tangannya yang akan dicobanya.

"Sabar sebentar ya Maas.. duduk dulu yang manis di situ yaa.. jangan dekat-dekat dulu," cegahnya.
Aku terpesona melihat Nani, betapa indahnya buah dada montok itu dilihat dari samping saat mengenakan cup BH baru sementara di celanaku sudah menonjol lagi.
"Gimana nich Yaang.. emang pantes model bra ini buat Nani?" tanya Nani berusaha meyakinkankuuntuk mengomentarinya.
"Aku dong yang mestinya memasangnya.. aku kan yang tahu cantik tidaknya ke tubuh Nani."
"Ah, ntar Mas pasti maunya mainin nenen Nani lagi saja.." terpesona aku melihat buah dadanya yang busung, mungkin karena melihat puting Nani yang agak menonjol waktu itu karena tidak memakai BH di balik daster tipisnya karena kebiasaan Nani kalau di rumah kadang-kadang suka tidak memakai BH, terutama waktu udara lagi panas.

"Kalau sering nggak pake BH ada yang bilang entar buah dada bisa cepat turun Mas?"
"Ah, asal sering diremas seperti punya Nani, nggak dong.." alasan karena aku begitu terangsang.
"Memangnya tangan Mas mau megangin terus, buah dada gede itu harus ada yang nyangga.." Sambil melirik matanya menggodaku, bahwa menyadari aku sedang mengagumi miliknya yang indah. Payudaranya benar-benar mengundang siapa pun tahan berlama-lama memandang untuk menikmati. Keindahan buah dadanya seolah selalu menumpahkan birahi dari balik BH 36C yang dia kenakan. Besarnya birahiku menikmati keindahan buah dada wanita kusadari sebagai obsesiku sejak dulu.

"Sini dong Yaang.. katanya mau memasangkan BH barunya ke Nani.." segera kuhampiri tubuh telanjang itu. Gadis muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, dadanya menonjol bulat. Ketika sebelah kakinya sengaja dia naikkan ke bibir dipan yang memang agak tinggi itu, pahanya yang putih mulus merangsang sekali.

Kupegangi BH yang baru, dan kupasangkan cup bra 36C-nya tepat pada kedua bukit payudara Nani.Tangannya ke belakang mengaitkan kaitannya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buahdadanya tampak semakin menonjol. Aku tak tahan lagi, batang kelaminku bertambah tegak mengeras mendorong celana dalamku menonjol. Aku menggeser cup BH-nya lebih ke bawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak semakin membusung dan tanganku mengelus bagian bulat mulus itulalu kucium permukaannya, tanda kekagumanku akan keindahan bukit payudaranya.

"Wah.. kamu memang benar-benar cantik sayang.." pujiku.
Di dada Nani kini tampak dua gumpalan daging kenyal putih, begitu sesak tertahan BH. Aku bertahan untuk memuaskan mataku memandangi keindahan bentuk liku tubuh Nani. Nani senyum tersipu, "Ahh.. Mas bikin Nani malu, dilihatin begitu.. Mas suka yach.. Nani pakai BH ini.."
"Yah kalau nggak suka, masa mataku tersiksa sampai nggak bisa kedip, sekarang celana dalamnyayang baru sekalian dong, biar komplit."
Nani segera membuka celana dalam yang masih dikenakannya dan memelorotkannya sambil membungkukkan badannya sehingga aku dari belakang terlihat tonjolan bukit kemaluannya. Aku tertegun saat melihat bukit liang kewanitaannya yang benar-benar kencang dan padat itu. Aku yakin itulah yang membuat jepitan ke batang kemaluanku sangat kuat dan sedotannya terasa sekali, karena kencang dan padat, membuat ketagihan penisku untuk terus dibenamkan di dalam liang vaginanya.

"Ooohh.. Maass.." Nani merintih keenakan, saat jari tengahku kugosokkan diantara bibir vaginanya dari belakang. Dan kulanjutkan dengan tanganku membantunya untuk menarik celana dalam Nani agar terlepas dari pinggulnya yang bulat montok itu. Kupeluk dulu tubuh telanjang Nanidari belakang dan kudekap payudaranya yang sudah tertutup BH sementara ciumanku mendarat pada lehernya yang jenjang.

"Uugghh.. Yaang.. Nani nggak tahan.. Mas punya penis udah nakal di pantat Nani.." ketika merasakan batang penisku menyodok diantara pantatnya, tepatnya di selangkangan Nani. Nani berusaha menggeser melepaskan pelukanku. Kupasangkan celana dalam baru, yaitu model CD yanghanya diikat tali di pinggulnya yang apabila dipakai tampaklah paha belakangnya mulai dari pangkal pinggul dan kakinya yang mulus nampak sempurna, sehingga benar-benar membuatku terangsang dan dengan satu kali tarikan celana itu akan terbuka. Ouwhh.. ingin rasanya aku segera menyetubuhinya dan lengkaplah apa yang kuinginkan akan penampilan Nani dengan sepasangCD dan BH yang menggairahkan birahi. BH yang membungkus buah dadanya yang berukuran 36C sangatminim dan sempit seakan buah dada Nani akan tumpah, nampak putingnya yang besar berwarna coklat kehitaman tampak jelas di balik BH tipis berwarna putih itu.

"Non.. kamu tambah merangsang saja," sambil berdiri kupeluk demikian kuat tubuhnya. Aku mulai mencumbunya, saling berpagutan diantara bibir, sambil tanganku mengusap leher dan punggungnya.Tanganku menelusuri bagian V ujung celana dalamnya, memberi pijitan empuk ke bibir vaginanya yang kenyal itu. Birahiku semakin memburu untuk tidak dapat kutahan lagi untuk berbuat lebih jauh lagi. Segera kupeluk tubuhnya dari belakang. Dengan cepat kubuka celana dalam Nani dan kupelorotkan dari tubuhnya. Seketika itu aku lagi-lagi terpesona melihat tubuh yang sintalitu dalam pelukanku hanya mengenakan BH. Ketiaknya yang putih bersih dan wangi sangat merangsang untuk kucium dan kujilati. Di selangkangannya kuraba gundukan daging yang tertutup oleh bulu-bulu yang juga lebat. Bulu-bulu halusnya. Dalam hati, aku ingin mencumbunya dengan lembut dan tidak tergesa-gesa menuju kepersenggamaan yang sebenarnya.

Dengan perlahan tanganku mengusap dan mengelus bagian permukaan yang menggunduk bulat mulus payudaranya pada bagian yang tidak tertutup cup BH. Kuturunkan tanganku lebih ke bawah, terus sampai batas bawah BH, mulai tanganku menyelusupi gundukan daging di baliknya, mencari puting susunya dan bulatan mengeras kuperoleh sambil kupilin, semakin tegang dan keras puting susu Nani yang semakin menonjol.

Aku mulai menjepit kedua puting Nani dengan jari telunjuk dan jari manisku, sambil sedikit menariknya dengan perlahan. "Enak ya rasanya.. nggak puas kalau nggak kupijit."
"Ah Yaang.. menyiksa Nani.. terus Sayang enak.."
Kedua puting dengan cepatnya mengeras, terasa sakit bercampur nikmat.
"Ah.. ah.. enak sekali rasanya," Nani segera akan berbalik menghadapku, tapi aku menahannya, tangan Nani mulai mengarah tengkuk leherku. Sementara itu tanganku tetap meremas payudara Nani. Oh begitu nikmatnya, Nani betul-betul terangsang. Tangan kananku mulai bergerak menuju bawah dengan perlahan dan sampai ke bawah pusar, kugosok pada bagian V antara selangkangnya. Aku mulai mengelus rambut bawah Nani yang halus sedikit keriting.

"Aduh Maas.. sudah banjir.." memang Nani merasa bagian bawah Nani sudah mulai lembab dan akuterus mengelus dengan lembutnya.
"Mass.. geli.. hehh.. eehmm.. teruss.. Sayang.. enak.. ah.. ah.. aduh Mas.. ah.. saya tidaktahan.. enak sekali.."
"Gimana.. enak rasanya.."
"Ah.. Mas enak sekali.. terus Mas.. jangan berhenti.. satu lagi Mas.. ah..!" lidahku menjilat bagian belakang telinga Nani. Gelinjang tubuhnya mulai kurasakan, tanganku sebelah kanan turun ke bagian perut dan semakin ke bawah mencapai ke pinggir atas pahanya dan tanganku kuselipkan ke gundukan daging yang ditutupi oleh bulu-bulu lebat dan halus diantara pangkal pahanya. Jariku mulai menggosok-gosok gundukan daging itu, ke atas dan ke bawah sementara itu telapak tangan kiriku masih menyusup ke balik BH-nya yang terasa benar terlalu sempit untuk buah dada berukuran 36C atau mungkin hampir tak mampu membungkus payudara semontok itu. Dengan bernafsu kuremas-remas buah dada montok di balik BH yang masih membungkusnya, hasratku untuk bersetubuh begitu menggebu bahkan dengan berpikir seperti ini saja sudah penisku berdenyut.

Tak puas sampai disitu kudekatkan wajah dan mulutku ke buah dadanya sebelah kanan lalu dengan kucium dan kujilat daging susunya dengan sepenuh perasaan. Kupejamkan kedua mataku menikmati indahnya gairah cumbuku dengan Nani. Masih pada posisiku memeluk Nani dari belakang.
"Ooowww.. Mass.. geli ahh.. mm.. aduuhh.. jilatanya.. auwww.. aa.. iihh.. nakal.. mm.. uuhh.. ih.. gelii.." Aku semakin bernafsu, "Crosp.. crosp.." ketika mulutku mulai menghisap dan menyedot permukaan daging payudaranya dan bibirku mulai aktif mengenyot permukaan buah dadanya itu agar meninggalkan bekas tanda merah pada permukaan daging yang putih mulusitu. "Oowww.. aduuh.. Maass.. gelii.. mm.. aahh.. iihh.. mm.. aduuhh.. sakit Mass.." pekik Nani semakin keras.

Kini posisi berhadapan dengan tubuh saling merapat, semakin asyik menyedot dan menghisap daging buah dada montoknya secara bergantian dan sementara Nani semakin asyik merintih keenakan, jemari kedua tanganku mulai bergerak menyusuri sekujur tubuh mulusnya yang seksi, mulai dari punggungnya yang halus mulus terus bergerak ke bawah ke pinggulnya yang bulat aduhai begitu menggemaskan. Aku meremas pelan pinggul dan pantatnya dan semakin lama semakin kuat sakinggemasnya. Begitu kenyal dan padat dan penisku makin menonjol membelah selangkangan Nani yang masih tertutup CD. Batang penisku yang menegang semakin menggila, kugesek naik turun makin cepat, kurasakan sudah berkali-kali cairanku keluar menandakan sudah saatnya untuk melakukan senggama. Namun jari tanganku masih belum berhenti menjamah tubuh Nani yang merangsang ini.

Jari telunjuk dan tengahku kugunakan untuk menyibak bibir-bibir kemaluannya untuk mencari jalan masuk ke vaginanya. Nani menyedot lidahku dengan lembut. Uh nikmatnya, tanganku menyusup diantara dada, meraba-raba dan meremas kedua belahan susunya yang montok itu.

"Mmm.. oohh.. Nani.. aahh.." kegelian bercampur nikmat saat Nani memadukan kecupannya dileherku sambil menggesekkan selangkangannya yang basah itu pada penisku.
"Mas.. sedot susu Nani lagi.. Yaang.." tangannya meremas sendiri buah dada itu, aku tak menjawabnya, bibirku merayap ke arah dadanya, bertumpu pada tangan yang kutekuk sambil berusaha meraih susunya dengan bibirku. Lidahku mulai bekerja liar menjelajahi bukit kenyal itu senti demi senti.

"Ohh.. Ohh.." rontaan perempuan itu mulai mengendur.
"Aawww.. aduuhh.. Mass.. aawww.." pekik Nani kegelian.
"Mmm.. enak sekali Non.." bisikku setengah serak.
"Mas.. Maass jilat memekku Sayaang.." bisiknya pelan terdengar bernafsu.
"Oouuh yaahh.. Mas.. oouuhh.. yaahh.. terus Sayang.."

Cukup lama sekali kukira aku mencumbu alat kelaminnya itu, sampai kira-kira lima menitan saat jerit gairahnya terdengar. "Mas.. Mas.. yaach.. buka mulutmu Sayang.. aduuhh.. aku mau keluar Sayang.. uuhh.. oouugghh.." pekiknya keras. Rupanya Nani sudah hampir sampai ke puncak orgasmenya. Sambil pinggulnya diangkat, jemari tangan kirinya menyibakkan bibir vaginanya yang sudah basah habis kujilati sedang jari telunjuk kanannya menggosok-gosok daging vaginanya dengan cepat. Dapat kulihat jelas liang vaginanya yang mungil dan sudah basah itu sedikit membuka. Melihat pemandangan merangsang itu segera kubuka mulutku lebar-lebar menunggu cairan orgasme tumpah keluar.

Tiba-tiba saja beberapa semprotan bening dari liang kemaluan Nani tumpah keluar langsung masuk ke dalam mulutku. Hmm.. ada rasa asin dan gurih bercampur jadi satu, langsung kutelan nikmatsemuanya. Baru sekali ini aku tahu bahwa wanita juga dapat menyemburkan cairan orgasme.

Nani mengerang dan merintih panjang menikmati puncak orgasmenya. Pinggulnya yang seksi aduhai sampai menggeliat-geliat hebat saking enaknya. Ssstt.. indah sekali. "Nnngghh.. uuhh.."Kudekatkan mulutku ke lubang kemaluannya yang masih meneteskan cairan kenikmatannya itu. Kuhisap dan kusedot sekuatnya sampai kurasakan tidak ada sisa lagi cairan yang keluar. Lidahku mengecap sedap menikmati lendir orgasme Nani sebelum akhirnya kutelan habis.

"Uuuhh.. Mas.. Mas.. oouhh.. makasih Sayang.. uuhh.. barusan nikmatnya bukan main Sayang.." bisik Nani letih setelah orgasmenya berakhir. Kedua belah pantatnya dihempaskan ke dadakuyang bidang. Kini dapat kulihat kembali wajah cantiknya yang tampak berkeringat basah. Namun rona-rona kepuasan dan kebahagian terpancar di wajahnya. Kubisikkan ke telinganya permintaanku yang khusus. "Non.. kalau Mas pulang kantor, Nani pakai BH-nya yang beli tadi yaah.." begitu keinginanku, dan dia hanya mengangguk, "Heech.." Aku mengecupnya sebelum malam itu terlelap menikmati malam yang indah dalam pelukan gadisku yang semakin menggairahkan. Dan malam yang hangat itu beberapa hari terus berulang dalam suasana yang bebas di rumah kostku yang sedang sepi, hanya aku bersama Nani.

Bersambung . . . .