Menyiksa SPG - 1

Bookmark and Share
Cerita ini muncul karena ulah SPG sombong yang menjaga pameran otomotif di salah satu plaza di kotaku. Pada waktu itu aku dan teman-temanku (berempat) sedang jalan-jalan ke plaza itu, lalu kami melihat ada pameran mobil di sana. Iseng-iseng aku dan teman-teman melihat mobil-mobil yang memang keren-keren itu, meskipun penampilan kami memang sangat jauh dengan pengunjung-pengunjung lainnya yang rapi-rapi. Sekalian cuci mata juga, soalnya para SPG-nya cantik-cantik dan putih-putih serta mulus-mulus, mereka memakai rok mini yang benar-benar serasi dengan tubuh mereka yang langsing dan tinggi, kaki mereka yang jenjang sangat indah dipandang dari ujung kaki sampai ke paha yang terbalut rok mini ketat warna merah. Wajah mereka yang rata-rata Indo seperti bintang sinetron sangat menyenangkan untuk dipandang, memang sangat cocok untuk mendampingi mobil-mobil mewah yang sedang dipamerkan.

Sambil melihat, kupegang-pegang saja mobil yang di pamerkan dan kucoba membuka dan metutup salah satu pintunya. Tiba-Tiba.., "Mas, tolong kalau mau lihat ya dilihat saja, jangan dipegang-pegang, nanti harus dibersihkan lagi", aku menoleh ke arah teguran itu berasal, ternyata teguran tersebut berasal dari salah seorang SPG yang cantik, meskipun aku tersinggung, aku sempat tertegun melihat paras dan body cewek SPG yang satu ini. Wajah SPG yang ini seperti campuran Indo Belanda, kebarat-kebaratan seperti itulah.

Masih setengah sadar, SPG itu ngomong lagi, "Tolong minggir dulu ya.. ini ada pembeli yang mau lihat". Aku menoleh ke sekitar, "Mana pembelinya.." pikirku, yang ada masih lihat-lihat mobil di sebelah, kali ini aku serasa benar-benar dilecehkan oleh SPG itu, dalam pikiranku, "Sombong sekali cewek satu ini.. padahal kan dia juga sebagai penjaga, belum tentu bisa beli mobil itu juga." Sambil berpikir begitu, tak terasa aku bertatap pandang dengan cewek SPG itu, yang lebih mengesalkan wajahnya seakan-akan melihatku sebagai makhluk yang tidak sepantasnya berdiri di situ. Kulihat juga senyumnya yang benar-benar menyebalkan, seolah-olah menantang dan sudah menang. Seraya tersenyum aku minggir juga.

"Ayo, cabut!" aku mengomando teman-temanku dengan nada yang masih kesal karena pelecehan tadi. Aku langsung mengarahkan mereka ke tempat parkir dengan tidak menyembunyikan wajah yang kesal. Mobil Espass kami pun meluncur. Sepanjang perjalanan, kami terdiam, teman-temanku tahu aku masih kesal, jadi mereka agak malas ngomong.

Setelah beberapa saat Aguk yang memegang kemudi memecah kesunyian, "Kenapa lu? masih kesal sama SPG itu?" tanyanya kepadaku. Belum sempat aku menimpali, Bimo buka suara, "Lu nggak remas aja pantatnya, biar tau rasa dia." Tawa mereka berderai, tapi aku masih diam, melihat gelagatku yang tidak bisa diajak bercanda, teman-temanku ikutan diam. Tiba-Tiba Dodot mengeluarkan ide bagus, "Eh.. gimana kalo kita culik aja tuh cewek!" Hatiku yang kesal ini bagaikan mendapat siraman air yang menyegarkan, "Betul juga", pikirku, "Biar ntar dia rasain gimana akibatnya kalau melecehkan aku" Aku tersenyum menyeringai ke arah Dodot, dan kami langsung memutar mobil ke arah plaza itu lagi.

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, mulai terlihat karyawan-karyawan dari plaza tersebut keluar untuk pulang. Kami dengan sabar menunggu di depan plaza itu sambil mengawasi orang-orang yang keluar.
"Gimana kalau keluar dari samping pertokoan?" tanya Bimo.
"Ah.. ya berarti nasibnya beruntung", jawabku cepat.
"Itu! itu!" Dodot setengah berteriak menunjuk ke suatu arah. Mata kita semua langsung menjelajah ke arah yang ditunjuk Dodot.
"Bagus!" pikirku ketika melihat si SPG berjalan keluar plaza untuk mencari kendaraan. Dia bersama seorang temannya yang kelihatannya SPG juga, sudah mengenakan sehelai kain untuk menutupi roknya yang mini, mereka berjalan menelusuri trotoar, rupanya rute angkutannya bukan di jalan ini. Kami segera membuntutinya pelan-pelan sampai mereka berhenti di perempatan yang sudah dikuasai oleh banyak angkota. Mereka langsung masuk ke salah satu bemo yang ada, begitu bemo tersebut berangkat, kami pun langsung mengikutinya.

Sampai di sebuah jalan, yang untungnya sepi sehingga sangat mendukung operasi kami ini, si SPG turun. Tidak sedikit pun dia menaruh curiga bahwa sebuah mobil telah mengikuti angkutannya sejak tadi. Setelah bemo tersebut meninggalkannya cukup jauh, kami mulai mendekati SPG itu yang kelihatannya masih harus berjalan kaki untuk mencapai rumahnya. Tanpa buang-buang waktu Aguk mensejajarkan mobil kami di samping SPG itu dan Dodot langsung membuka pintu samping Espass. Kulihat SPG tersebut terkejut melihat ada mobil yang sangat dekat dengan dirinya, dan tanpa disadari tangan Dodot sudah merenggut tangan dan menarik tubuhnya ke dalam mobil. "Srreekk..", pintu samping ditutup, mobil kami langsung melaju tanpa bekas, sementara si SPG masih kebingungan dan akan berteriak, tetapi dengan sigap Bimo langsung menutup mulutnya sehingga yang terdengar hanya gumaman. Si SPG mencoba meronta, namun sebuah pukulan ditengkuknya yang diluncurkan oleh Dodot membuatnya langsung pingsan.

Aku menoleh ke belakang, Bimo dan Dodot tersenyum memandangku seolah-olah ingin menyatakan bahwa operasi penculikan sudah berhasil. Kulihat kain yang menutupi rok mininya tersingkap, dan meskipun di dalam mobil gelap, aku masih dapat melihat pahanya yang mulus. Dodot pun tak tahan langsung memijat dan meraba paha yang mulus itu. Mobil kami langsung meluncur ke rumah Aguk yang memang kosong dan biasa sebagai tempat kami berkumpul.

Setelah sampai dan memarkir mobil di garasi, kami menggendong SPG yang masih pingsan itu ke dalam kamar. Di sana kami mengikatnya pada kursi kayu yang ada. Aku duduk di ranjang menghadap SPG yang masih lunglai itu yang terikat di kursi kayu. Teman-temanku kelihatannya memang menghadiahkan SPG itu ke padaku untuk diperlakukan apa saja.

"Dot.. ambilin air." Dodot keluar kamar dan tak lama masuk dengan segelas air yang disodorkan kepadaku. Aku berdiri dan menyiramkan pelan-pelan ke wajah SPG itu. Ketika sadar, SPG itu terlihat sangat terkejut melihatku di depannya, "Kamu.." katanya seraya menggerakkan tubuhnya, dan dia sadar kalau tubuhnya terikat erat di sebuah kursi. Kali ini aku yang tersenyum, senyum kemenangan. "Mau apa kamu?" masih dengan sombong SPG itu bertanya setengah menghardik kepadaku. "Kalau kamu macam-macam, aku akan teriak", lanjutnya lagi. Aku hanya tersenyum, "silakan saja teriak, nggak bakal terdengar kok", kataku sambil menyalakan tape si Aguk, kebetulan lagunya dari band Metallica, Unforgiven, kusetel agak keras, meskipun aku yakin bahwa kamar Aguk letaknya terisolir, jadi tidak mungkin teriakannya didengar orang lain.

Ketakutan mulai terlihat di wajah SPG itu, wajahnya yang cantik sudah mulai terlihat memelas memohon iba. Namun kebencian di hatiku masih belum padam, aku ingin memberinya pelajaran!
"Siapa namamu?" tanyaku dengan nada datar.
"Vera", jawabnya.
"Ampun Mas, maafkan aku, aku disuruh boss untuk bersikap begitu", katanya seolah membela diri.

Tidak peduli dengan pembelaan dirinya, langsung kusibakkan kain yang menutupi roknya, lalu dengan kasar kutarik roknya hingga ke pangkal paha. Vera menatapku ketakutan, "Jangan, jangan Mas.." ucapnya memelas seakan tahu hal yang lebih buruk akan menimpa dirinya. Lagi dengan kasar kutarik bajunya sehingga kursi yang didudukinya bergeser dan kancing bajunya hampir lepas semua. Terlihat oleh kami bulatan payudara yang masih tertutup BH berwarna putih. Tak tahan melihat itu Aguk dan Dodot yang berdiri di sampingnya langsung meremas-meremas payudara itu. Vera sangat ketakutan, ditengah ketakutannya dia berusaha meronta, namun hal itu semakin meningkatkan nafsu kita. Jari-jariku langsung meraba secara liar daerah liang kewanitaannya yang masih tertutup CD, mengelus dan berputar-putar dengan lincah dan sekali-sekali mencoba menusuk. "Tidakk.. tidakk.." Vera berkata lirih seolah ingin menolak takdir.

"Breett.. breett.." kubuka dengan paksa seluruh baju Vera sehingga yang terlihat hanya BH dan CD-nya saja. "Naikkan ke atas meja", kataku, serta merta ketiga temanku langsung bekerja sama memegangi Vera dan mengikatnya di atas meja. Vera meronta-ronta sekuat tenaga namun tentu saja usahanya tidak mampu melawan tiga tenaga cowok. Sekarang dia sudah telentang di atas meja dengan tangan terikat di sudut-sudut meja, kedua kakinya agak menjulur ke bawah karena mejanya tidak cukup panjang, namun kami mengikatnya secara terpisah pada dua kaki meja. Kami sendiri posisinya sekarang di samping tubuhnya. Lalu dengan sekali tarik kulepas BH-nya dan menonjollah dua bagian payudaranya yang cukup padat berisi. Sekarang kami melihat sebuah tubuh yang putih mulus dan langsing dengan tonjolan payudara yang bergoyang-goyang karena Vera masih berusaha meronta. Karena meronta, terlihat CD-nya yang agak transparan semakin mengetat memperlihatkan lekuk-lekuk liang kewanitaannya.

"It's showtime!" teriakku yang disambut oleh kegembiraan teman-temanku dan wajah ketakutan Vera. Aku langsung mengambil beberapa karet gelang, lalu kulingkarkan di payudara Vera sampai terlihat mengeras dan merah. "Aduhh.." erang Vera, masih kutambah penderitaannya dengan menjepitkan jepitan yang biasa digunakan Aguk untuk alat elektronik, bentuknya bergerigi dan terbuat dari logam tipis yang di-chrome, kujepitkan di kedua puting susunya. "Aduhh.. ahh.. aduuhh" Vera mengerang kesakitan. Aguk lalu memberiku sebuah alat seperti pecut, yang terbuat dari beberapa tali tampar kecil sekitar 5 buah yang salah satu ujung-ujungnya dijadikan satu pada sebuah pegangan dari rotan. Entah untuk apa alat ini biasanya digunakan Aguk, pikirku, tapi peduli apa, yang penting sekarang benda ini ada gunanya.

"Jangan.. ampunn Mas.." pinta Vera, melihat aku mengibas-ngibaskan pecut itu. Aku tersenyum sadis, lalu tanganku kuangkat dan sebuah pecutan kuarahkan ke payudaranya. "Ctass.." Tubuh Vera menggelinjang, dan buah dadanya langsung bergoyang ke kanan ke kiri menahan sakit. "Aduhh.." teriaknya sambil menitikkan air mata. Beberapa garis merah terlihat di kedua buah dadanya, di sekitar puting.

"Lagi?" tanyaku kepada Vera, yang tentu saja dijawab dengan gelengan kepala, "Ampunn.. ampunn tolongg.." rintihan bercampur tangis Vera menjadi satu. Tanpa rasa iba pecut kuayun lagi, kali ini sasarannya adalah pahanya. "Mmmpphh.." Vera menggigit bibir bawahnya menahan sakit. Sekali lagi kuayun pecut itu, sekarang ke arah pusar, garis-garis merah segera menghiasi tubuh Vera. Entah aku sangat menikmatinya sehingga tak terasa sudah beberapa ayunan pecut mengarah ke tubuh Vera. Tubuhnya terlihat bergetar, menggelinjang menahan sakit dan perih. Wajahnya yang basah oleh air mata dan keringat sudah benar-benar menunjukkan penderitaan. Tapi aku masih belum puas. Kulihat teman-temanku, ketiganya tersenyum seakan memberikan dukungan kepadaku untuk terus menyalurkan hasratku.

Bersambung . . . . .