Lika-liku kehidupanku - 3

Bookmark and Share
Dewa membasahi penisnya dengan air liur. Diusapkan juga air liur di atas lubang anus Edward. Dewa mulai menyodokkan penisnya. Ketika menyentuh lubang anus, Dewa berhenti sejenak dan menggesek-gesekkan ujung penisnya ke atas dan ke bawah, Edward merasakan nikmat geli yang luar biasa. Nikmat sekali. Tangan Edward yang bebas berusaha mengocok penisnya sendiri.

"Wa.. Ambilin biore yang ada di gayung itu.!" kata Edward ketika dirasanya kocokan di penisnya tidak nikmat. Dewa lalu memberikan biore itu pada Edward. Edward lalu mencampur biore dengan air liurnya dan dioleskan ke kepala penis milik dia dan Dewa.

Mereka lalu kembali ke posisi semula. Dewa tetap menggesek-gesekkan kepala penisnya di lubang anus. Dan Edward tetap mengocok penisnya perlahan-lahan. "Wa.. Mulai Wa masukin, udah nggak kuat.!" pinta Edward sambil memejamkan matanya.

Dewa lalu mulai menekan penisnya perlahan. Terasa pijitan yang kuat di seluruh penisnya. Penisnya terasa seperti disedot-sedot oleh rongga anus temannya. Pelan-pelan Dewa terus memasukkan penisnya hingga akhirnya seluruh penisnya masuk sampai ke pangkalnya. Dewa memejamkan matanya meresapi kenikmatan yang dialaminya. Penisnya terasa disedot dan dikenyot oleh lubang anus Edward.

Sebaliknya Edward ketika seluruh penis sudah masuk, lubangnya serasa penuh, hangat dan berdenyut-denyut. Edward merasakan senjata Dewa memenuhi lubangnya dari luar sampai dalam, hangat berkejat-kejat. Indah sekali. Langsung Dewa menariknya keluar dan menyentakkannya lagi masuk. Edward tercekat. Sodokannya nikmat sekali. Ditariknya lagi, dan dihentakkannya lagi senjatanya. Edward berteriak kalau batang kejantanannya menyentak ke dalam, dan sebaliknya, mendesah kalau batang kejantanannya ditariknya keluar. Edward merasakan nikmat di seluruhsyarafnya.

Gesekan kulit batang kelamin dengan lubang anus antara keduanya memberikan perasaan gatal-gatal nikmat. Sambil merasakan sodokan demi sodokan kejantanan Dewa, Edward menggoyang-goyang, dan mengejang-ngejangkan otot lubangnya supaya Dewa merasakan senjatanya diurut-urut. Edward ahli dalam hal ini.

Meskipun belum pengalaman. Reaksi Dewa ketika merasakan senjatanya digigit-gigit oleh lubang anus Edward jelas terlihat. Dia mendesis-desis, merem melek. Pasti nikmat sekali. Kerjasama yang indah. Batang kejantanannya memberi Edward rasa nikmat yang luar biasa, sementara Dewa pasti merasakan nikmat yang luar biasa pula.

Sodokan-sodokan Dewa kurang lebih selama sepuluh menit. Selama itu Edward mengocok-ngocok batang penisnya sendiri karena nikmatnya dahsyat sekali kalau ngocok sambil pantatnya ditusuk begitu. Tiba-tiba Edward merasakan senjata Dewa semakin besar, lubang Edward terasa semakin penuh, dan Dewa mencapai orgasmenya. Edward merasakan ada cairan hangat mengalir dalam perutnya. Badan Dewa mengejang, lalu lemas, lunglai, dan jatuh ke depan menindih Edward.Dia mencium bibir Edward, dan bilang terima kasih. Rupanya Dewa lebih berani sekarang. Edward mencium balik. Mereka berpagutan beberapa saat. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Edward belum keluar, jadi tangannya meraih penisnya sendiri yang masih tegang, dan mulai mengocoknya. Dewa tidak diam melihat Edward mengocok penisnya begitu. Kini dia sudah benar-benar berani. Dijilat-jilat dan dihisap-hisapnya puting susu Edward satu demi satu dandipelintir-pelintirnya dengan jarinya. Hanya dalam beberapa saat, Edward mengejang dan tiba-tiba Dewa menggeser tangan teman dekatnya itu. Tangan Edward diganti dengan tangannya. Dia mau berganti peran. Begitulah. Dia kulum senjata Edward dan disedot-sedotnya. Dewa benar-benar sudah berani. Sementara Edward melakukan perangsangan sendiri dengan memelintir-melintirkan putingnya.

Karena nikmat yang amat sangat dari atas dan di selakangannya, Edward pun menyeburkan maninya dengan keras. Rasanya nikmat sekali. Edward melenguh karena geli, lalu mencium bibir Dewa dan menciuminya di mana-mana.

Sejak kejadian itu mereka jadi lebih akrab, dan selalu menyisihkan waktu yang ada untuk melakukan hubungan seks.

JUMAT, 23 FEBRUARI 2001

Sudah 3 tahun 11 bulan Dewa menjalani hukuman, berarti satu bulan lagi dia dibebaskan, hal ini karena dia mendapat remisi selama 1 tahun setelah dianggap berkelakuan baik. Edward sendiri sudah keluar 6 bulan yang lalu. Dia bisa kembali ke pacarnya dan tidak harus melakukan seks dengan pria lagi jika dia mau. Kalau di LP pilihannya hanya pria. Memang ada fasilitas menginap semalam untuk istri setiap bulan. Tapi Dewa dan Edward belum menikah, jadi mau tidak maujika mereka ingin melampiaskan nafsunya, selain onani ya tentu saja dengan teman se-LP.

Sudah 6 bulan Dewa mengeluarkan spermanya dengan tangannya sendiri. Dia sudah tak tahan untukmengeluarkan spermanya dengan kuluman atau dekapan hangat rongga tubuh orang lain. Andai saja dia punya uang, dia akan menyuap sipir penjara untuk membawakannya pelacur sehingga dia bisa menyelipkan penisnya ke dalam vagina. Tapi apa daya dia tidak ada uang.

Mengingat uang, dia jadi ingat dengan Wedi. Wanita keparat yang menjebloskan dia ke dalam penjara ini. "Cuih..!" Dewa ingin sekali membunuh wanita itu. "Pasti dia sekarang setiap saat bertukar pasangan menikmati penis yang berbeda-beda dalam vaginanya. Dasar cewek matre nggak tau diri..! Duit suaminya dipake selingkuh..!" Dewa berujar dalam hati.

"Dewa.. ada tamu mencari kamu..!" terdengar dari speaker ruang tamu nada panggilan untuk Dewa."Tamu..?" dengan heran Dewa berjalan menuju ke ruang tamu. Selama ini tak ada saudaranya yang menjenguk. Paling juga ibunya, tapi itu juga 2 tahun yang dulu sebelum beliau terserang parkinson. Kini dia dibawa oleh paman Dewa yang di Surabaya. "Maafkan aku Ibu..!" lirih Dewa berguman. Dewa benar-benar menyesal atas perbuatannya setiap dia ingat akan ibunya.

Dewa melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruang tamu. Diamati siapa tamu yang menjenguknya. Ternyata tamu yang sedang menunggunya adalah seorang wanita yang sangat dia benci, wanita yang menghancurkan hidupnya, Wedi. Amarah Dewa timbul, mereka bertatapan. Dia ingin sekali menerjang wanita itu dan merobek-robek tubuhnya. Tapi dia ingat, bahwa hukumannya selesai 1 bulan lagi. Dia tidak ingin menghancurkan kebebasannya, dia takut jika dia tetap di sini, dia akan benar-benar membunuh. Dasar wanita sialan. Selalu saja bikin masalah. Kebencian Dewa padanya semakinmemuncak. Dia membalikan badannya, segera melangkah keluar.

"Dewa..! Tunggu..!" teriak Wedi ketika dilihatnya Dewa tidak ingin menemuinya. Dewa tetap melangkah seakan tidak mendengarnya.

"Dewwaa.. suamiku meninggal.!" teriak Wedi untuk mencegah Dewa melangkah lagi.
"Dewa, apa kau pikir aku senang dengan apa yang kita alami. Aku tiap hari dibayangi perasaan berdosa karena menyebabkan kau di penjara..!" teriak Wedi lagi.
Dewa tidak mengerti arah pembicaraan Wedi, suami meninggal, lalu dibayangi rasa berdosa.
"Huh, apakah dia mau menunjukkan bahwa dia juga menderita seperti aku. Huh, penderitaanmu tidakapa-apanya dibanding aku," guman Dewa dalam hati sambil terus melangkah.
"Dewaa..! aku mencintai kamu..!" akhirnya keluar juga perasaan yang dipendam oleh Wedi sejak dia bercinta dengan Dewa. Perasaan itu berlipat oleh perasaan berdosa kepada Dewa. Cintanya makin besar. Walaupun Dewa seorang napi. Dia kini tidak takut untuk memilih sendiri calon suaminya. Dia kini wanita kaya. Harta suaminya jatuh kepadanya setelah suaminya meninggal.

Tapi ternyata Dewa memikirkan hal lain, Dewa memikirkan balas dendam. Jika dia menikahi Wedi dan Wedi mati, tentu saja dia akan menikmati seluruhnya harta Wedi.
"Ini pembalasan yang terbaik..!" guman Dewa. Dia lalu membalikkan badannya dan berjalan mendekati Wedi. Ditahan sekuat tenaga amarah yang ada.
"Apa maksud dari semua ucapanmu Wed..?" suara Dewa tetap bergetar walaupun dia berusaha tenang.
"Aku ingin kau menikahiku Wa, aku sangat mencintaimu.!" air mata menetes dari pelupuk mata Wedi ketika dia mengucapkan kata-kata itu.
"Air mata buaya," Dewa mengguman dalam hati.
"Kamu yakin akan ucapanmu?" Dewa tetap dengan susah payah menahan emosinya untuk tidak merobek mulut wanita itu.

"Aku ingin menikahimu Wa. Apa yang bisa lebih meyakinkan dari itu?"
"Ada.. kamu mati untukku," guman dewa dalam hati.
Tiba-tiba Dewa teringat akan nafsu seksnya yang tidak tersalurkan selama ini.
"Aku ingin kamu gimanapun caranya, menyuap atau apapun, menginap di LP ini untuk semalam. Jika kamu bisa aku percaya kamu mencintai aku.!" ujar Dewa sambil membalikkan badannya.
"Dewwaa..! aku akan memenuhi permintaanmu, malam ini juga. Dewa percayalah padaku.!" teriak Wedi sambil menyeka air matanya yang menetes. Sedangkan Dewa terus berjalan meninggalkan ruang tamu LP.

Ternyata benar perkataan Wedi, karena malam harinya ada panggilan untuk Dewa agar datang ke ruang bermalam. Panggilan ini di sampaikan diam-diam oleh sipir penjara.

Dewa masuk ke dalam kamar itu. Di dalam sudah ada Wedi yang duduk dengan menggunakan gaun tidur yang sama dengan yang dulu dia pakai 4 tahun yang lalu. Tubuhnya masih seksi seperti dulu, kulitnya yang putih, perutnya yang ramping serta bibirnya yang ranum membuat penis Dewa berdesir kecil. Dewa mendekati tubuh Wedi. Tangannya maju ke depan berusaha memegang payudara."Ets.. Tunggu dulu," tepis Wedi. "Hhmm.. ternyata dia pikir aku seperti dulu yang nurut saja sama dia, ini daerahku jadi aku yang berkuasa." guman Dewa. Dewa ingin melampiaskan kebenciannya malam ini pada wanita itu.

Dia mencengkram rambut Wedi dengan tangan kiri. Lalu digamparnya pipi Wedi dengan tangan kanan sekuat tenaga. Wedi terkejut diperlakukan begitu, tapi sebelum dia protes tubuhnya sudah didorong secara kasar oleh Dewa ke atas kasur. Sehingga kini Wedi berada dalam posisitelentang, dengan rambut masih tertarik oleh tangan Dewa.

"Waa..! kamu kenapa sih? Wa ampun Wa..!" teriak Wedi merasakan tarikan di rambutnya. Dewa seperti tidak mengacuhkannya, dia naik berlutut di atas kepala Wedi dengan badan menghadap ke kaki. Dikeluarkan penis dari celananya dan dimasukkan ke dalam mulut wanita itu. "Bleep.. Wa.. Bleepp.." Wedi sepertinya ingin mengucapkan sesuatu tapi gerakan bibirnya itu malah membuat pijatan-pijatan di penis Dewa. Dewa merasakan penisnya disedot-sedot. Nikmat sekali rasanya. Dewa menaikturunkan penisnya sambil tangan satunya tetap menjambak rambut, dan satunya lagi menampar-nampar payudara Wedi yang masih tertutup gaun sekuatnya. Wedi merintih-rintih kesakitan. Tapi tetap saja rintihannya itulah yang membuat Dewa semakin bersemangat.

Dari tempat Dewa berlutut dia bisa melihat gaun tidur Wedi tersingkap, celana dalamnya yang berwarna putih transparan tak mampu menyembunyikan bukit kemaluannya yang montok dan tebal. Tangan kanan Dewa yang menampar payudaranya lalu dialihkan untuk menampar gundukan vagina yang tebal itu. Ditamparnya sekuat tenaga lubang kemaluan itu yang membuat tubuh bagian atasWedi terangkat setiap Dewa menamparkan tangannya. Hal ini makin membuat penis Dewa makin tersedot ke dalam tenggorokan Wedi sampai ke pangkalnya. Dan tiap kepala Wedi turun, tiap saat itu pula Dewa merasakan sedotan di penisnya itu makin keras sampai ke pangkalnya. Nikmatnya luar biasa. Penis Dewa kini semakin besar dan penuh, setiap gerakan yang dibuat Wedi makin terasa remasan di urat-urat kemaluan Dewa.

Dewa merasa penisnya sudah ereksi penuh. Dicabutnya penisnya lalu pindah menuju ke bawah selangkangan Wedi. Sepertinya dia tidak sabar lagi ingin menyelipkan penisnya ke lubang vagina Wedi yang belum terangsang itu. Dewa membayangkan betapa nikmat merasakan penis di antara vagina yang masih sempit itu. Ditariknya dengan sekuat tenaga celana dalam putih yang menutupi daerah kenikmatan wanita itu. Wedi berusaha menahan celana dalamnya agar tidak melorot.

"Wa.. aku belum siap..!" hanya lirih Wedi berkata, karena dia tahu itu akan sia-sia.

Dengan sekali tarik celana dalam itu langsung melorot. Dewa jadi semakin sangat terangsang saat melihat gundukan kemaluan Wedi yang lebat ditumbuhi rambut-rambut hitam keriting. Gundukan itu masih mengatup. Bibir kemaluannya masih rapat. Sangat nikmat bila bisa meneroboskan penis ke dalam vagina seketat ini. Dewa berlutut di depan selangkangan Wedi dan menggesekkan kepala penis ke klitoris Wedi. Uuhh gelinya..

Wedi semakin meronta dan mencoba duduk, tapi cengkeraman tangan Dewa pada pinggulnya membuatusahanya sia-sia belaka. Dewa sudah tidak sabar ingin menusukkan penisnya. Kedua tangannya memegang pinggul Wedi, sedangkan penisnya yang sudah tegak berdiri diletakkan tepat di depan lubang vagina Wedi. Tiba-tiba Wedi berteriak keras sekali. Rupanya Dewa berhasil menembus lubang kemaluan Wedi dengan penisnya. Secara cepat Dewa menggerak-gerakkan pinggulnya maju mundur. Sempitnya lubang vagina Wedi membuat penis Dewa seperti di remas-remas dan disedot-sedot. Nikmat-nikmat geli rasanya. Tulang-tulang penis Dewa seperti mau copot. Dewa memejamkan matanya menikmati isapan lubang kemaluan Wedi.

Rontaan Wedi melemah setelah beberapa saat. Kini dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menggigit bibirnya. Tak berapa lama Wedi mulai menggerak-gerakkan pinggulnya. Gerakan itu menambah sedotan yang dirasakan pada penis Dewa. Sepertinya Wedi sudah terangsang.

"Uhh.. sshh.." serunya sesak ketika batang kemaluan Dewa dihujamkan ke liang kenikmatan itu. Goyangan demi goyangan membuat erangannya semakin ganas. Tentu saja Dewa semakin beringas. Dia sangat ingin melihat Wedi kesakitan.

"Dewaa.. bajiingann!" untuk pertama kalinya Wedi mengumpat. Entah apa maksudnya. Dewa kini tidak tahu apakah wanita yang vaginanya sedang diisi oleh penisnya ini sangat menikmati permainan atau kesakitan. Kepalanya terlempar ke sana ke mari dan nafasnya mendesah hebat.

"Wed.. aku akan merobek punyaahh.. kamuu..Oughh.." seru Dewa ketika denyutan liang kemaluannya terasa sekali memijat batang kemaluan Dewa.
"Waa.. aku.. akan.. bunuh.. kamuu.. buu.nu.uuhh.."
"Silakan.. saajahh.."
Mereka berdua berbicara tak karuan.
"Oughh.. aihh.. sshh.." teriaknya menggelinjang sambil meremas-remas sisi ranjang.
"Waa.. kamu.. kamu.." dia tidak melanjutkan kata-katanya.

Tiba-tiba, "Waa.. Waa.. bajingan.. ah.." serunya keras sekali, sambil menggoyang pantatnya naik turun dengan cepat dan menari-nari seperti kilat. Bunyi becek di bawah sana menandakan dia telah orgasme dan memuntahkan cairan beningnya. Tapi goyangannya tidak surut. Dewa mencabut batang kemaluannya dan menyuruh Wedi membelakanginya. Dibukanya kedua paha Wedi, terlihat dari belakang vagina Wedi memerah karena gesekan-gesekan yang tadi terjadi, dan lendir mengalirkeluar dari belahan vaginanya. Tapi sasaran Dewa bukanlah lubang kenikmatan itu, Dewa menginginkan lubang yang lebih sempit. Diarahkan batang kemaluannya dari belakang. Dewa benar-benar ingin melihat Wedi menderita. Dipegangnya pantat Wedi dengan tangan kiri, dan tangan kanannya mengarahkan penisnya agar bisa masuk ke lubang anus Wedi.

Wedi menjerit saat anusnya ditembus penis Dewa. Mendengar itu Dewa malah semakin kesetanan. Diamenjambak rambut Wedi ke belakang hingga wajah Wedi menengadah ke atas. Kini tangan satunya meremas-remas payudara Wedi dengan kasar. Dicubit-cubit seluruh permukaan payudara Wedi hingga kebiru-biruan.

"Aduhh.. sudah dong Waa.. ampun.. sakit Waa.." Tapi Dewa tidak menghiraukannya.
"Oughh.. sempit sekali," teriak Dewa mengomentari lubang dubur Wedi yang lebih sempit dari vaginanya. Setiap Dewa menarik penisnya terlihat dubur Wedi monyong. Sebaliknya saat Dewa menusukkan penisnya, dubur Wedi menjadi kempot.

Dewa memajumundurkan penisnya dengan semangat. Terasa pijitan yang kuat diseluruh penisnya. Penisnya terasa seperti disedot-sedot oleh rongga anus Wedi. Secara cepat Dewa terus memompa penisnya keluar masuk hingga ke pangkal. Dewa memejamkan matanya meresapi kenikmatan yang dialami. Penisnya terasa disedot dan dikenyot. Nikmat sekali rasanya.

Kulit penis Dewa yang bergesekan dengan lubang anus Wedi memberikan perasaan gatal-gatal nikmat. Sambil merasakan sodokan demi sodokan kejantanan Dewa, Wedi mulai menggoyang-goyang, dan mengejang-ngejangkan otot lubangnya supaya Dewa merasakan senjatanya diurut-urut. Wedi kini mulai menikmati perlakuan kasar Dewa.

Dewa masih memajumundurkan penisnya selama kurang lebih selama sepuluh menit. Wedi merasakan lubang anusmya semakin panas dan semakin penuh. Terasa penis Dewa makin membesar dan ada denyutan di dalamnya, seperti ada lonjakan-lonjakan yang ingin dikeluarkan. Dewa memdesis, melenguh dan berteriak, lubang anus Wedi terasa semakin penuh.

"Oughh..!" Dewa mencapai orgasmenya. Wedi merasakan ada tembakan hangat di dalam perutnya. Badan Dewa mengejang, pantatnya menekan ke depan, lalu lemas, lunglai dan jatuh ke depan, menindih Wedi. Tubuh mereka berkeringat, basah sekali.

Dewa mencium bibir Wedi dengan lembut, kini mereka mulai berpagutan. Mereka berpelukan, tubuh mereka menyatu, dada mereka saling menekan. Penis Dewa yang mulai mengendur masih bergesekan dengan bibir vagina Wedi.

Dewa lalu menarik bibir dan tubuhnya. Sambil memakai baju dia berkata, "Entah bagaimana cara kamu, aku ingin setiap minggu kamu datang ke sini."
"Wa.. kalau kamu ingin begitu, aku bakal ngelakuinnya.." sambil menatap Dewa dengan tatapancinta. Dia memang benar-benar mencintai Dewa. Apapun rela dia perbuat untuk Dewa.

Setelah berpakaian Dewa segera meninggalkan kamar itu. Di luar lalu dia berkata dalam hati,"Wanita keparat! Aku akan merobek vaginamu setiap minggu. Lalu setelah kita kawin, aku akan membunuhmu. Itu balasan yang setimpal buatmu," Dewa masuk ke selnya setelah digoda terlebih dahulu oleh sipir yang disuap Wedi. "Wa.. Asyik niyee..!"

TAMAT