Bayangan Senja

Bookmark and Share


NGUUUNGG...!!! Kuputar habis gagang motorku pada persneling empat. Nampak jarum speedometerku mengarah ke angka 90 dan bahkan kini mendekati angka 100. Aku tak peduli lagi bahwa jalanan yang kulalui adalah jalanan padat karya alias penuh sesak. Hatiku sudah terlanjur terbakar api amarah yang seakan mendidih hingga ke ubun-ubun kepala. Teriakan umpatan pemakai jalan lain kepadaku yang seakan bersahutan tiada henti sepanjang jalan yang kulalui juga tak kupedulikan lagi.

“Brengsek kau, Ita! Brengsek kau, Dandy!” umpatku dalam hati.
Lamunku menyeruak saat teringat kembali kejadian beberapa menit yang lalu.

Lamunku terus saja menyeruak hingga menembus masa dua tahun silam saat kumulai dekat dengan seorang gadis manis bernama Ita. Kala itu aku masih duduk di bangku SMA kelas tiga dan Ita adalah adik kelas tepat dibawahku yaitu kelas dua. Aku adalah seorang gitaris grup band di SMA tersebut. Aku dan bahkan seluruh crew di bandku mulai dekat dengan Ita saat Dandy vokalis kami membutuhkan partner duet, dan saat itulah pilihan vokalis cewek jatuh pada nama Ita.

Ita tak membutuhkan waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan kami. Dalam waktu singkat kami sudah menjadi akrab karena memang Ita adalah seorang cewek yang supel, riang, dan renyah. Terlebih lagi aku, kedekatanku menjadi ekstra dekat dibanding yang lain karena secara kebetulan ternyata rumahku dan rumah Ita cukup dekat jaraknya. Satu jalan raya namun berbeda gang, sehingga otomatis kami menjadi sering berangkat bareng baik itu saat berangkat sekolah maupun sore hari ketika latihan band.

Benih bunga kian hari kian tumbuh subur di pekarangan jiwaku yang sebelumnya tandus. Apakah begitu juga yang terjadi pada hati Ita? Aku tak tahu pasti. Akhirnya, 30 menit yang lalu adalah jawaban dari semua pertanyaanku terhadap isi hati Ita. Aku super sangat kaget sekali ketika aku datang ke rumah Ita.
Disana sudah duduk manis diatas sofa seorang Dandy vokalis bandku dengan merangkul pundak Ita. Dengan riang mereka melambaikan tangan kepadaku dan dengan tanpa ada perasaan bersalah mengatakan bahwa mereka baru jadian seminggu ini.

Berita menggelegar itu kuterima dengan rasa duka yang mendalam include sakit hati yang meledak-ledak. Bagaimana tidak, Dandy yang seorang sahabat baik bagiku dan merangkap tempat curhatku termasuk saat aku jatuh cinta pada Ita ternyata bermanuver begitu sigap dengan mengambil celah kekosongan status Ita yang belum memiliki pacar. Aku pun juga tak habis pikir dengan apa yang diperbuat Ita. Secara naluri aku tahu bahwa sorot mata dan gerak tubuh Ita saat kami dekat menunjukkan bahwa Ita sebenarnya ada 'rasa' padaku.
Tapi.. .ahh, aku tak tahu kenapa semua ini terjadi.

BRAAKKK!!

Lamunan pada kisah dan kejadian sedihku sontak buyar saat kuketahui bahwa motor yang kukebut dengan brutal telah memakan korban. Seorang cewek pengendara motor yang kusalip tiba-tiba oleng dan jatuh. Ia sepertinya kaget saat aku menyalip dengan posisi terlalu mepet motornya. Aduh, bertambah lagi penderitaanku hari ini.

Namun aku bukan cowok pengecut yang tega meninggalkan korbanku dengan begitu saja. Segera kuhentikan laju motorku dan segera berbalik arah untuk melihat apa yang terjadi.

“Rasain lo, makanya jangan sok jadi pembalap di jalanan!”

”Ahh, lo gila ya?”

”Baru belajar naek motor ya?”

Berbagai teriakan menghina, mengumpat, mencibir terlontar dari khalayak ramai yang secara live menyaksikan kejadian itu. Aku hanya bisa diam.

Kulihat seorang cewek duduk meringis menahan sakit disamping sebuah motor yang terguling di sisi luar trotoar. Kutaksir dia masih seumuran anak kuliah seperti aku. Nampak bagian lututnya berdarah namun tidak terlalu parah sepertinya. Dan... aduh, kacamata yang nangkring di wajahnya retak, wah... lumayan juga nih harganya.

“Mbak, maaf ya, mbak jatuh gara-gara aku.” ucapku sambil berjongkok di dekat si cewek.

“Aduh, mas.. Gimana ini... Motor pinjeman lagi...” sahut si cewek sambil menahan tangisnya yang sudah siap-siap meledak.

“Udah, gini aja, kita masukin motornya ke bengkel depan situ, trus mbak ikut saya ya, kita cari rumah sakit atau klinik buat ngobatin lutut mbak itu. Abis itu kita ke optik, saya ganti juga tuh kacamata mbak yang pecah. Tenang saja mbak, semua aku yang tanggung biayanya.” jawabku sambil berlagak seperti anak orang gedongan meski tampang dan dandananku sudah menyiratkan bahwa sudah pasti aku bukan anak orang kaya.

Si cewek yang mendengar ucapanku spontan terkejut dan melepas kacamatanya untuk melihat kondisi kacamata tersebut. Sepertinya ia begitu syok dengan kejadian itu sehingga saat kacamatanya pecah pun ia tak menyadarinya.

Berbeda dengan kekagetan si cewek, sebaliknya aku malah melotot takjub saat kulihat wajah tanpa kacamata itu ternyata begitu cantik. Memang kadangkala pemilihan bentuk kacamata yang tidak tepat akan berpengaruh pada penampilan juga.

Wajah yang cantik ayu dihiasi sepasang bola mata yang belok bulat besar seperti punya Nikita Willy, hidungnya juga mancung, dan bibirnya... aduh, bikin gemes. Sekejab kemudian aku kembali dibuat terperangah saat kulihat roknya tersingkap sehingga menampakkan sepasang paha yang padat putih.

“Wah, ini musibah atau berkah nih?” sesaat kuterlupa pada Ita dan serangkaian kisah bersamanya.

***

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit hanya kami isi dengan lamunan masing-masing pada kejadian yang baru saja kami alami. Akhirnya aku berinisiatif untuk mengajaknya ngobrol.

“Mbak namanya siapa? Kita udah boncengan begini tapi pada ga saling kenal!” teriakku di sela deru angin yang menerpa wajah kami yang sedang memacu motor menuju rumah sakit.

“Senja, mas!” teriak si cewek yang ternyata bernama Senja itu sambil berusaha melawan terpaan angin yang menenggelamkan suara halusnya.

“Oh... kenalin, namaku Bintang, kuliah di univ X. Mbak kuliah juga?” lanjutku sambil tetap berteriak sehingga membuat orang-orang yang kami lintasi menjadi berpikiran kalau kami sedang bertengkar karena kerasnya suara kami yang bersahut-sahutan.

“Apa, mas? BINATANG??” tanya Senja dengan heran.

“Bintang, mbak... Bin-tang. B.I.N.T.A.N.G!” sahutku agak kesal sambil mencoba mengejakan susunan namaku seperti seorang ayah sedang mengajarkan membaca kepada anaknya.

“Oalahh, Bintang toh? Maaf, mas... kurang jelas... terlalu berisik suara jalanan. Aku kuliah juga tapi di univ Y. Udah ah, nanti aja ngobrolnya, disini berisik.” imbuh Senja dengan lantang.

Urusan obat-berobat dan perkacamataan secepatnya kami kerjakan dan seluruhnya aku yang bayar (hehe... meski modal utang via atm ke teman). Setelah itu, segera kuantar Senja pulang dan aku juga mohon diri untuk pulang. Tak lupa nomer HP aku tinggalkan buat dia agar bisa menghubungiku setiap saat kalau-kalau masih perlu kontrol berobat ataupun ada pembayaran lain yang kurang. Cukup bertanggung jawab lah pokoke!!

Sampai di rumah, aku kembali teringat pada sosok Senja. “Apakah ini pengganti yang diberikan Tuhan kepadaku saat Ita menjauh dariku?” gumamku pelan sambil tidur telentang di kasur dengan melipatkan kedua tanganku dibawah tengkuk. Lambat laun lamunanku berubah menjadi kantuk yang gencar menyerang sehingga aku pun terlelap dalam buaian mimpi.

***

Esok harinya, aku ketemu Dandy. Memang aku satu kuliahan dengan dia meski berbeda jurusan. Dandy berusaha kembali mengakrabkan diri kepadaku seakan ingin berusaha menetralisir ketegangan yang ada. Bagiku, sakit hati takkan begitu saja mudah hilang. Mungkin aku bisa menerima permintaan maafnya, tapi bukan berarti hatiku bisa 'legowo' begitu saja.

“Hai, bos, sori yang kemaren...
Pasti lo ngerasa gak enak atau gimana gitu waktu lo tahu gue jadian sama Ita. Sori ya, gue ga ada maksud maen serobot kayak sopir angkot rebutan penumpang, ini murni gue lakuin atas dasar suka sama suka. Yah, bisa dibilang sama-sama cocok lah.” ucap Dandy sesaat setelah kita bertemu dengan panjang lebar mirip pengacara yang dengan berbagai upaya ingin meng-goal kan klien-nya.

“Ah, santai aja man, lo bawa deh Ita. Gue mah cukup ganteng buat cari yang laen, hehehe...” jawabku santai sambil berlagak menirukan gaya Ahmad Dhani yang terkesan dingin namun ngegigit.

Tak ingin berlama-lama bersama si sopir angkot 'Dandy', aku lekas meluncur ke kelas mengingat kuliah akan segera dimulai. Hingga siang, kuhabiskan waktu dengan hanya duduk di bangku kelas, istirahat pun aku tak beranjak dari kelas. Bukan karena males ketemu Dandy lagi di kantin atau lagi merana memikirkan Ita, tapi karena kantong emang lagi bokek tak bertulang, hehehe…

Saat jam kuliah habis, baru aku beranjak sekaligus pulang. Sampai tempat parkir motor, HP-ku berbunyi. Nampak no asing dilayar tersebut.

“Ya, halo!” ucapku lirih.

“Halo, ini mas Bintang? Saya Senja, mas. Ini tadi saya dapat telepon dari bengkel, motor udah kelar diperbaiki. Mas bisa antar saya kesana untuk ambil motornya? Saya tunggu di depan gerbang kampus Y ya, mas.” balas si penelepon yang ternyata Senja.

Serrrr...!

’Idih, kenapa perasaanku tiba-tiba merasa semriwing begini ya begitu menerima telepon dari senja?’ batinku dengan dihiasi binar indah pelangi harapan.

“Eh-eh, i-iya... ditunggu ya, 15 menit lagi sampai sana.” jawabku terbata.

Lambaian tangan Senja nampak dari kejauhan saat motorku menyusuri jalan terjal sekitar 20 meter di depan gerbang kampusnya. Saat motorku mulai mendekati sasaran, mak deg! Aku lihat siang itu Senja begitu cantik menggoda. Dengan rambut sebahu yang menambah sempurna wajahnya yang berkulit putih mulus, dipadu dengan dandanan casual, Senja terlihat begitu seksi dan menawan. T-shirt ketat warna maroon membalut perut rampingnya dengan sempurna. Dibagian atas, t-shirt itu terlihat semakin sesak karena terdorong oleh tonjolan gunung muda yang begitu bulat, mancung, dan menggoda. Sebuah rok jean's diatas lutut menyokong erat bongkahan pantatnya yang semoks. Penampilannya menambah bening dan riangnya hatiku.

Dengan sigap Senja naik di boncengan motorku dan kami pun meluncur ke TKP. Namun sayang seribu kali sayang, sampai di lokasi ternyata bengkel telah tutup. Akhirnya kuajak Senja mampir dulu ke sebuah cafe untuk melepas lelah.
Kami terlihat semakin akrab di hari yang kedua setelah perkenalan itu.

“Mas mau pesan apa?“ tanya Senja kepadaku yang sebenarnya tengah melamun dengan tatapan kosong.

“Ohh, i-iya, air putih saja.” balasku tergagap sambil melemparkan senyum yang kubuat semanis mungkin.

“Kok cuma air putih?” tanya Senja heran karena dia sudah terlanjur memilih jus durian dan roti bakar.

“Kan ada wajahmu yang akan membuat nikmat apapun yang kuminum meski cuma air putih!” jawabku dengan konyol.

“Gombaalll...!!!” ucap Senja sambil mendorong pipiku.

“Hehe... biarin, yang penting cakep!” balasku lagi dengan tidak nyambung.

“Yee, apa hubungannya coba gombal sama cakep?” ucap Senja dengan mencibir.

“Hehehe...”

Duk! Senyumku tertahan tatkala kakiku mendorong meja dengan cukup keras akibat kegirangan yang berlebihan. Dan apesnya, vas bunga di tengah meja terguling. Air yang mengisi vas bunga hidup itu tumpah dan secara kilat mengguyur Senja sehingga pakaiannya menjadi basah.

“Ups... Sori!!” ucapku sambil dengan spontan mengelap bagian depan pakaian Senja yang basah.
Aku bener-bener tidak sadar bahwa aku sedang memegang dada montok Senja dan mengelapnya dengan menggosok-gosokkan tisu dibagian itu.

“Ehh... S-sudah… Sudah, ga pa-pa!” sergah Senja seketika sambil mulutnya sedikit mendesis seperti merasakan sesuatu yang membuatnya bergetar.

Aku baru sadar bahwa sedari tadi aku telah memegang dan sedikit meremas dada Senja. Aku segera mundur kembali ke kursiku dengan malu-malu tanpa sepatah pun kata terucap.

’Uuhh, pantas saja tadi mulut mendesis begitu, lha wong aku gosok bagian putingnya pakai tisu. Hehehe… jadi pengen lagi.’ ucapku dalam hati.

JRENG...!
“Aku jatuh cinta... Tuk kesekian kali...” Suara ringtone lagu Dewa di HP-ku berbunyi. Kulihat nama Ita disana.

“Halo?” ucapku cepat.

“Kak, kenapa sih cuek sama Ita?
Ga berasa apa kode dari Ita?” ucap Ita dalam teleponnya.

“Kode? Kode apaan ya? Kode pos... ato kode wilayah SLJJ? Hmm, kode sandi morse ya?” balasku asal karena aku juga bingung nih cewek ngomong apaan.

“Kak Bintanngg! Jahat banget sih! Ya udah, Ita mau ke rumah Kak Bintang saja sejam lagi, jangan kemana-mana. Ita mo ngomong!” bentak Ita galak seperti Ibu penjual sayur depan rumah saat ada orang nawar dagangannya kelewat murah.

***

Sampai di rumah, kulihat Ita sudah duduk manyun di kursi teras.

“Udah lama, Ta?” tanyaku setelah berhasil menstandarkan tengah motorku yang berat dengan sukses karena memang nih motor paling bandel kalau diajak standart tengah.

“Yee, nanya lagi! Kan Ita sudah bilang, jangan kemana-mana. Lagian, orang rumah lagi pada kemana sih, kak?” jawab ita ketus bin jutek.

“Lha ngapain kamu sewot? Ini kan rumahku, mo keluar kek, mo masuk kek, ya terserah aku. Trus kalo keluargaku mo keluar harus laporan sama kamu, begitu? Kalo kamu dateng cuman buat ngomentarin aktifitas keluargaku, mending pulang gih sana!” bentakku emosi karena ulah Ita yang maen 96.30.41.93 kayak pemadam kebakaran.

“Ya bukan begitu, kak.
Iya deh, Ita minta maaf. Ita boleh masuk kan?” balas Ita sambil terpaksa pasang senyum karena takut kuusir.

“Enggak! Kalau mo ngomong disini aja. Cepetan. Aku capek, mo tidur!” bentakku lagi karena memang sedari awal aku ga suka pada kehadiran Ita.
Hatiku sudah terlanjur 'mangkel'.

“Ehmm, kak... Ita tahu kalau diem-diem kak Bintang naruh hati ke Ita, tapi emang nembaknya keduluan Dandy sih, tapi... Ita nerima Dandy kan buat mancing kak Bintang! Buat kasih kode kakak bahwa Ita butuh kakak buat perjuangin Ita agar ga direbut Dandy. Tapi, kakak malah pergi. Tadi pagi juga kata Dandy, kakak nyerahin Ita ke Dandy, kakak mo cari cewek lagi.
KAK, AKU SUKA SAMA KAMU!!!” terang Ita dengan suara bergetar, tapi bukan karena grogi atau menahan tangis. Suaranya bergetar karena kebetulan rumahku bersebelahan dengan rel kereta api, dan kebetulan pula pas ada kereta lewat sehingga tanah disekitarnya menjadi bergetar.

Aku tersentak kaget. Tiba-tiba hati ini merasa menyesal bukan kepalang. Aku merasa telah men-judge berlebihan atas peristiwa ini.

“Ita, maaf jika aku bikin kamu kecewa karena tidak bisa mewujudkan harapanmu. Mungkin aku terlalu naif dan pecundang untuk bisa berpikir logis seperti yang kamu harapkan. Tapi, dengarkan aku, It... Pertama, seburuk-buruknya maling ga akan mencuri barang milik sesama maling. Begitu juga aku, hatiku ga akan sanggup untuk merebut pacar Dandy, temanku sendiri. Kedua, jika memang ini caramu untuk menyatukan cinta kita, maka aku bilang bahwa caramu ini SALAH. Dapat diartikan bahwa kamu telah memperalat Dandy, atau bisa jadi memang kamu awal jadian dengan Dandy memang suka sama dia, namun karena suatu hal kemudian kamu berpaling dari dia dengan memanfaatkan keberadaanku sebagai orang yang pernah dekat dengan kamu!” ucapku panjang lebar sampai keringatku deras menetes seperti lagunya kang Ebiet G. Ade.

Ita tak bisa berkata-kata, tangisnya meledak. Dan aku hanya bisa garuk-garuk kepala. Lambat laun kuperhatikan Ita yang menangis. Pundaknya terguncang-guncang karena pengaruh isak yang berkepanjangan. Wow! Pundak yang berguncang itu telah membuat bongkahan besar 36B di dadanya ikut bergendul-gendul. Sepanjang tangisnya, aku hanya bisa diam, memperhatikan dada indah Ita dan... menahan sesak di celana.

“Ita, aku tak butuh kamu ngomong lagi meskipun apapun alasanmu.
Yang pasti, aku sayang sama kamu. Tapi, sesuatu yang telah terjadi tak akan bisa diulang lagi. Hidup adalah pilihan. Jika kamu telah memilih Dandy meski itu hanya taktik peng-kode-an saja menurutmu, maka jalanilah pilihanmu bersama Dandy. Setelah tangismu reda, segeralah pergi. Aku tak enak dengan orang tuaku yang sebentar lagi mau pulang.” ucapku tegas.

Beberapa menit kemudian, kulihat Ita berbalik dan melangkah gontai meninggalkan pelataran rumahku.
Sesaat dia berhenti dan menengok kepadaku seperti berharap aku mengejarnya seperti di adegan Rangga-Cinta film AADC. Namun aku bukan lelaki macam itu. Kulambaikan tanganku mengisyaratkan dia untuk segera pergi. Dari belakang kulihat goyangan buah pantat indah Ita yang terbungkus celana pendek berbahan kaos ketat. Terlihat padat dan berisi. Semakin jauh Ita melangkah, semakin lama kulihat goyangan pantat itu, dan semakin sesak pula celanaku.

Aduh emak...
Aduh bapaaakk...
Pusing kepala...
Kepalaku sendiri...

Kumainkan gitar bolong kesayanganku dan kunyanyikan sebuah lagu milik Sule. Kuarahkan langkah kakiku ke kebun belakang rumah. Disudutnya kutemui sebuah kursi malas dari bambu. Kuhempaskan tubuhku disana sambil terus kumainkan chord demi chord lagu emak bapak-nya Sule.

Meski aku telah menyatakan secara tegas kepada Ita tentang ini dan itu, tentang anu dan anu, namun terus terang pikiran dan hatiku tak dapat mengubur kepedihan begitu saja. Bayangan kebersamaan dengan Ita yang cukup lama telah kujalani begitu terasa menyesak di jiwa. Belum lagi bayangan wajah Senja yang beberapa hari ini telah membetot habis perhatianku.
Uhh, pusing...

***

Pagi yang cerah di hari Sabtu.
Kuliah libur dan it's time for kerbau molor… tidurr. Sekilas nampak jam dinding menunjukkan pukul 09.05 sebelum akhirnya aku tertidur kembali dan memeluk guling yang selalu setia menemaniku dan selalu rela meski sering kutelanjangi (hehe, ganti sarung guling maksudnya...)

DODOLIPRET... DODOLIPRET...
Suara ringtone SMS mengagetkan tidur nyenyakku. Kulihat nama Senja disana.

“Mas, mumpung masih pagi, kita ambil motor yuk. Daripada ntar kesiangan tutup lagi kayak kemaren!” isi SMS dari Senja dengan dibubuhi icon smile di akhir kalimatnya.

“Iya, nyonya besar.
Aku mandi dulu. 2 jam lagi aku kesana!” balasku dalam SMS itu.

“Busyett. Mandi ato onani tuh, mas. Lama banget? Buruan gih, sejam maksimal harus sudah nyampe rumahku. Keburu tutup ntar bengkelnya!” balas Senja lagi dan cukup membuatku MUNJOR (Melamun Jorok) gara-gara SMS-nya yang kunilai cukup nekad untuk sebuah hubungan perkenalan yang masih terhitung hari. Kontolku yang memang selalu tegak bersambung saat bangun tidur pagi semakin senut-senut gara-gara ulah SMS Senja.

“Biarin, gue mo onani sambil gebayangin kamu!” lanjutku dalam SMS menyambut ungkapan 'cabul' Senja.

“Yeee, beraninya ngebayangin doang. Ayo sama orangnya kalau berani!” tantang Senja dalam SMS berikutnya.
Wah nih dara manis ngebangunin singa tidur. Ok. Siapa takut!

“Nantangin nih, siapa takut, kapan?” balasku singkat.

“Hehehe... Becanda, mas.
Tatutt... udah sana gih mandi. Keburu siang loh, daadaa...” Senja menanggapi sambil berusaha berkelit atau aku pikir jaim sepertinya.

***

“Permisi...”

Aku telah sampai di rumah Senja dan mengetuk pintunya yang telah terbuka sedari tadi.

“Masuk aja, mas. Aku lagi ganti baju nih. Orang rumah lagi pada keluar, tunggu aja di sofa, mas.” terdengar sebuah suara nyaring dari dalam rumah yang tentunya suara Senja.

Kumasuki ruang tamu rumah Senja dan duduk di sofa. Sambil menunggu, kubuka-buka album foto yang ada di bawah meja tamu. Foto-foto Senja tempo dulu. Ada foto saat dia masih berseragam SMP, ada juga foto Senja bersama beberapa cewek yang sepertinya adalah teman Senja, dan... lho, kok ada Ita ikutan foto di sekumpulan cewek itu? Ada hubungan apakah Ita dengan Senja?

”ADUUHH..!!!” terdengar teriakan Senja dari dalam kamar.

Spontan aku berlari memasuki kamar Senja. Terlihat Senja meringis sambil memegangi lututnya yang nampaknya berdarah.

“Ah, Senja, kenapa?” tanyaku panik.
Aku juga bingung dengan kepanikanku itu. Biasanya aku tak sebegitu hebohnya jika ada teman wanita yang jatuh. Tapi terhadap Senja, gerak tubuh dan perasaanku serasa begitu aneh.

“Mas, hiks... ini nih, luka bekas jatuh dari motor yang masih belum begitu kering, barusan kepentok pinggiran pintu lemari.” ucap Senja sambil mengaduh tak henti-henti.

“Ih kamu, kenapa gak hati-hati sih! Tuh kan berdarah lagi. Punya betadine gak? Sini aku bantuin ngobatin.” balasku dengan rasa khawatir tingkat tinggi.

Jari Senja menunjuk sebuah kotak yang menempel di tembok dekat pintu kamarnya. Segera kuberanjak menuju kotak itu dan kutemukan betadine disana. Setelah menemukan benda yang kucari, aku melangkah kembali ke arah Senja yang duduk di lantai sambil bersandar di tepi ranjangnya. Duh, aku bener-bener kaget, ternyata Senja belum selesai memakai pakaiannya. Ia baru menggunakan atasan sebuah tangtop tipis penutup bra. Dibagian bawah, ia hanya memakai lilitan handuk. Wuih... Dadanya bagian atas luar biasa putih mulus, di tepi tangtopnya bagian atas menyembulkan belahan dada yang mengarah ke pusat hulu ledak di tengah dada yang mana terlihat super duper montok. Ehemm, mana tahan...

Olesan betadine tanganku ke lutut Senja menjadi tak terkonsentrasi. Celanaku terasa sesak luar biasa. Dan lagi-lagi aku dibuat melotot hingga seakan bola mata ini hendak keluar dari kelopak dan menggelinding mendekat ke arah Senja. Saat kuoleskan betadine, terlihat ia menekuk kakinya yang sakit itu ke arah atas demi mempermudah olesanku. Akibatnya, pahanya yang hanya tertutup handuk itu menjadi terbuka. Handuk terkena gravitasi dan mengumpul di bagian atas pahanya. Samar terlihat sehelai dua helai rambut pubis yang bikin aku merinding disko.

“Senja, aku tak tahu apa sebenarnya yang sedang kurasakan. Tapi jujur, aku merasa begitu nyaman bila dekat dengan kamu. Perasaanku jadi aneh setiap kali melihat kamu. Sepertinya, ehmm... aku suka sama kamu!” ucapku disela kegiatanku mengoleskan betadine yang hampir usai.

“Mas Bintang, aku... aku... belum bisa berpikir sejauh itu, mas. Aku sepertinya belum siap jika sekarang kita berkomitmen untuk pacaran semacam itu. Ini terlalu cepat, mas. Kita baru saling mengenal beberapa hari yang lalu, kita jalani saja ya apa adanya. Semoga dengan seiring berjalannya waktu, aku bisa memberikan jawaban yang dapat membahagiakan kita berdua.” sahut Senja dengan agak kaget campur terpana karena tidak menyangka jika aku akan berkata begitu.

Aku hanya mengangguk syahdu. Namun gerakan kepala kami seperti mengandung kutub utara dan kutub selatan magnet. Tak tahu siapa duluan yang memulai, tahu-tahu bibir kami sudah bertemu dan saling mengecup lembut. Tak ada gejolak yang menghantar pada serangan beringas french kiss. Kami hanya saling melumat lambat dengan sepenuh perasaan. Gerakan kissing model slow motion mengalir seakan ingin mewakili ungkapan perasaan kami yang belum tercurahkan. Kusedot dan kukulum lembut bibir bagian bawahnya. Sesekali kulumasi permukaan seantero bibirnya dengan juluran setengah lidahku. Bibirnya tak banyak memberikan perlawanan. Namun suguhan bibirnya yang menganga seakan mewakili kesediannya untuk melakukan ciuman lembut itu.

Sejurus kemudian kami tiba-tiba saling berpelukan.
Tumpukan pasir cinta sepertinya telah menggunung meski baru bisa diungkapkan dalam sebuah pelukan yang menyiratkan sebuah keinginan semu untuk tetap terus bersama. Dalam pelukan itu kurasakan desakan kenyal dari bagian dada Senja yang menempel erat di dadaku. Namun saat itu kucoba mengusir guratan nafsu yang terus berusaha menorehkan noktah kelam. Akhirnya aku berhasil memenangkan perasaan kasihku melawan auman singa nafsu yang bingar hingga tembus ke jiwa.

Kukecup lembut kening Senja dan segera kuberanjak berdiri dan berlalu kembali ke ruang tamu untuk memberikan waktu bagi Senja berbenah pakaian.

***

Tepat seminggu setelah peristiwa perciumanku bersama Senja. Sore itu aku udah nongkrong di kursi tamu rumah Senja. Sore itu aku ingin mengajak Senja merasakan pelangi bermalam minggu seperti yang dilakukan para muda-mudi masa kini. Namun sebenarnya bukan event malam minggu yang ingin kupakai, hari sabtu sore lebih kupilih karena memang sore itu pas aku lagi suntuk dan ingin refreshing sejenak diluar.

“Ayo, mas.” sebuah langkah kaki dengan menggunakan alas kaki ber-jenggel tinggi mendekat kepadaku sambil berucap ceria, dan suara ceria itu adalah milik Senja.

“Wah, dahsyat... Cantik bener!” ucapku takjub saat melihat Senja muncul dengan menggunakan baju rok terusan sepanjang lutut dengan motif bunga-bunga dan ikan pinggang ban lebar mengikat ramping pinggangnya. Dadanya terdesak lebih menyembul ke depan akibat ikatan erat dibagian perutnya itu sehingga terlihat seksi namun anggun menggigit.

Pulasan eyeshadow tipis di kelopaknya, sapuan blash on di pipinya dan warna segar lipstick di bibirnya membuat ia laksana bintang, padahal akulah yang namanya bintang, hehe. Dandanan Anggun agak gaya njadul tapi tidak ndeso. Mengingatkanku pada sosok Fitri di sinetron Cinta Fitri, hehe.

Gue suka gaya lo..

Kugamit tangan Senja untuk bersama melangah keluar. “Eh, papa mama mana? Mo pamit dulu lah, ga enak!” ucapku sambil sejenak menahan langkah.

“Lagi pada ke rumah Kakek, biasalah mumpung papa libur kerja.” balas Senja dengan masih dengan gayanya yang ceria.

“Ow, ya udah. Permisi dulu, mbah penjaga rumah.” ucapku berseloroh sambil ngeloyor menyeret tangan Senja untuk keluar.

“Ihh, jangan bikin serem dong. Senja ga mau kepikiran yang serem-serem kalau lagi di rumah sendiri!” sergah Senja agak dongkol.

BRUUKK..!!!

Sebelum tubuhku mencapai pintu rumah Senja, seorang wanita dengan agak terburu-buru menerobos masuk ke dalam rumah Senja dan pastinya langsung bertubrukan denganku.

“K-kak... Bintang!!!” sebuah suara khas dan sangat kukenal membuatku sungguh terperanjat.

“Ita!” hanya kata itu yang terucap dari bibirku.

“Lho, mas, kok tahu namanya?
Kenalin, ini sepupuku, mas.” ucap Senja dengan agak heran.

“Sudah. Stop! Senja, jadi kamu yang rebut Kak Bintang dariku, hah? Pantas saja dia menghindar dariku. Ehm, ternyata sepupuku sendiri menikam dari belakang!” bentak cewek tersebut yang ternyata adalah Ita dengan amarah yang meledak-ledak.

“Hei, nona, jaga ucapanmu! Kamu makin lama makin nyebelin ya! Pikiranmu gak logis. Apa sih maumu? Pakai nyeret-nyeret nama Senja yang ga tahu apa-apa lagi.” hardikku marah demi melihat kelakuan Ita.

PLAKK..

Sebuah tamparan hangat-hangat tahi ayam melayang di pipiku buah karya tangan Ita yang merasa sakit hati dan frustasi menghadapi kejadian itu.

PLAKKK... PLAKK...

Dua tamparan di kanan kiri pipi Ita dihadiahkan oleh Senja yang merasa sudah habis kesabarannya melihat kelakuan Ita. Dalam hati aku merasa bersorak girang saat kulihat tamparan Senja seperti sedang memberikan perlindungan kepadaku, hehe.

“Eh-eh, sudah.. sudah.. Kenapa jadi aksi tampar-tamparan begini? Ita, sudah dong. Ngapain sih kayak pak Kardi kebakaran jenggot gitu!
Pakai cara damai dan tenang ga bisa ya?” sambarku menengahi pertikaian yang sedang berlangsung.

“Dik, pulang sana! Mbak malu lihat caramu, seperti orang gak berpendidikan saja! Dan perlu kamu tahu, dik... mbak ga pernah tuh yang namanya rebut pacar orang! Sudah sana pulang, dasar anak manja!” sahut Senja dengan sinar mata mengerikan laksana mata elang mengintai mangsanya.

“Satu lagi, Ta, aku dengan siapa atau bahkan dengan Senja pun, kamu tak berhak mencampuri! Sudah kubilang kan, kamu sudah bersama Dandy. Sudahlah, sana nikmatin urusan dengan pacarmu itu. Kamu jauh-jauh deh dari kehidupanku!” imbuhku lagi dengan jengkel.

BRUAKK...!!!

Ita berbalik arah dan pergi sambil menyempatkan diri menghantamkan tangannya ke pintu dengan sangat keras. Aku yakin itu pasti sakit sekali, hehehe...

***

Malam minggu yang indah. Jam 8 malam kami telah sampai kembali di rumah Senja.

“Lho, papa mama mana?” tanyaku heran.

“Ih, dibilangin juga! Tadi aku kan sudah bilang, lagi pada ke rumah Kakek!” sergah Senja sambil menjewer daun kupingku seperti ibu guru memarahi muridnya yang ketahuan tidak mengerjakan PR gara-gara aku yang suka pikun mirip kakek-kakek peyot.

“Lha trus, ga pulang?” tanyaku lagi dengan berlagak sok bego.

“Tau! Biasanya tidur sana, besok sore kali baliknya!” balas Senja dengan agak gusar dengan pertanyaanku yang itu-itu saja.

“Ehm, hehehe... Berarti boleh minta yang itu dong? Yang itu tuh, waktu kita SMS-an tempo hari dan kamu nantangin buat nyobain orangnya langsung daripada cuma ngebayangin, hehehe... Hayo, kutagih janjimu, hahaha...” tanyaku lagi sambil kemudian tersenyum lebar nan jahil.

“Heh, pemuda! Kala itu kan awak lagi BE-CAN-DA. Ber-gu-rau. Tak usah lah kau ambil hati. Dasar pawang ular! Hahaha...” ujar Senja berlogat Malay sambil mencubit keras puting dadaku sehingga membuatku mendelik plus menjerit kesakitan.

“Rasain kamu! Dasar pawang ular dalam celana, hahaha...” teriak Senja sambil cekikikan.

Merasa tidak terima atas perlakuan sadis Senja, dengan gaya terkaman harimau buah belajar pencak silat dijaman SD, kusambar tubuh Senja dan membuatnya serta merta terpelanting di atas sofa. Kusambar buas bibir Senja. Senja berusaha mendorong tubuhku sekuat tenaga untuk menunjukkan penolakannya...

HIIKK.. HIKK.. HIKS.. Senja menangis tersedu setelah berhasil mendorongku hingga aku terguling di lantai bawah sofa.

“Se-senja, kok nangis, ada apa sih?” tanyaku heran sambil mengelus kepalaku yang sakit akibat kejedot lantai saat terguling tadi.

“Mas, aku takut...” jawab Senja singkat, padat, dan bersahaja.

“Takut? Takut apa sih?” tanyaku lagi sambil berusaha bangkit dan mengelus rambut panjang Senja, namun ditepisnya.

“Takut sama Mas Bintang. Kenapa jadi buas dan beringas begitu? Senja tidak suka dikasarin, mas.
Membuat Senja ingat lagi pada kejadian... kejadian... saat Senja diperkosa orang jahanam itu. Senja takut! Hikk.. hiks..” tangis Senja begitu terdengar memilukan di sela kata-katanya yang sangat mengejutkanku. Aku tak menyangka akan membawa efek sebesar ini hanya gara-gara mau nyobain french kiss. Duh, aku jadi merasa bersalah.

***

Setelah berbicara dan menghibur hati Senja cukup lama, akhirnya aku tahu tentang cerita masa lalu Senja.
Senja mengalami kejadian menyedihkan itu pada saat dia masih kelas 3 SMA. Pelakunya adalah teman Papa Senja. Saat itu sang papa meminta tolong kepada Senja untuk mengantarkan sebuah surat penawaran proyek kepada Pak Budi sang pemerkosa. Ketika mengantar surat itu ke rumah pak Budi, kondisi rumah pak Budi sedang sepi. Hal itu mempermudah aksi bejat pak Budi untuk memperdayai Senja. Namun hingga hari ini Senja masih merahasiakan kejadian itu kepada orang tuanya karena tak ingin kerjasama proyek papa nya dengan pak Budi berantakan yang ujung-ujungnya akan membuat papanya rugi besar. Syukurlah, saat ini pak Budi gila itu sedang terserang stroke sehingga tak akan mungkin mengulang kelakuan jahanamnya pada Senja atau bahkan kepada bunga bangsa lainnya.

Kubelai kembali rambut Senja dengan sepenuh hati. Aku merasa menyesal telah bertindak gegabah dengan memperlakukan Senja seperti guling yang bisa se-enaknya ku banting atau ku peluk sekuat tenaga tanpa memikirkan perasaannya.Kali ini belaianku dikepalanya tak ditepisnya lagi.

“Senja, jadi Senja gak suka dikasarin? Mau ga kalo di buat slow motion dan lembut?” ucapku pada Senja sambil berusaha membuat Senja tersenyum dengan gurauanku.

“Ih, apaan sih?
Uh, mas Bintang, rese banget sih.” Senja merajuk dan tersipu malu. Kedua pipinya yang dihiasi lesung pipit terlihat memerah.

Dengan lembut kurangkul Senja dan kusandarkan kepalanya pada dadaku. Senja hanya terdiam, sepertinya menunggu sesuatu yang dia sendiri juga tak tahu apa yang sedang ditunggu itu. Kami hanya saling menunggu tubuh ini bergerak reflek mengikuti kata hati untuk menjalankan tugas kemanusiaan, hehehe... emangnya bhakti sosial?

Kubelai dagu Senja dan kuangkat lambat menghadap ke wajahku. Matanya terpejam, hanya hembus nafasnya yang terdengar mulai tidak teratur. Dengan selembut mungkin kukecup bibir tipis Senja. Ia merespon dengan sedikit membuka mulutnya. Kusedot pelan bibir bawahnya untuk memancing respon yang lebih dalam lagi. Dan benar saja, sesaat setelah kukulum bibir bagian bawahnya, nampak Senja menjulurkan lidahnya dan berusaha menggapai lorong rongga mulutku. Dengan senang hati kuhentikan aktifitas mengulum bibirnya dan mempersilahkan dengan hormat kepada lidah Senja untuk menerobos masuk kedalam mulutku. Kusambut dengan juluran lidahku sehingga kedua lidah kami bertemu. Diiringi dengan sedotan lemah pada ujung lidahnya agar mau bertamu lama-lama di dalam mulutku.

Kecipak air ludah yang terhimpit aktifitas ciuman bibir membuat suasana begitu menghanyutkan. Kami saling terpejam menikmati setiap detik perciuman. Dengan gerakan mengangkat dan menarik, kutempatkan tubuh Senja diatas pangkuanku. Aku yakin dia cukup merasakan ganjalan dibawah tempat duduknya dimana si P-ku bersarang.

Kupeluk mesra tubuhnya sehingga tangan ini menghimpit dadanya yang membusung. Sedangkan bibir kami masih terus bertautan mengumbar gelora yang kian merasuki alam pikir dan jiwa.

Dengan sangat pelan dan hati-hati penuh kelembutan stadium tinggi kuberanikan meraba bongkahan di dadanya. Kuremas dengan... tak kuteruskan karena MENDADAK Senja mundur dan berdiri. Jantungku serasa berhenti berdetak. Aku takut kehilangan Senja yang lambat tapi pasti telah mampu menyinari hatiku.

“A-ada apa, Senja?” kuberanikan bertanya meski jantung ini berdegup dengan kencang seperti bunyi bass drumnya Gilang Ramadhan tatkala memainkan lagu Power milik Helloween dengan extra double pedal.

Senja tak menjawab sepatah katapun.
Namun ia menggerakkan tangannya untuk membuka resleuting rok terusannya yang ada disamping pinggangnya. Sepersekian detik kemudian kulihat baju terusan rok itu meluncur turun dan jatuh dilantai, dengan cepat kulihat gugusan buah dada indah dalam bungkusan bra warna cream. Terlihat juga sepasang kaki padat nan putih yang masih tertutup bagain pangkalnya oleh sebuah kain cd warna cream dan berenda-renda indah sekali. Sebagian rendanya membentuk tanda hati dan sebagian lagi membentuk rumpun bunga yang menyembul indah di bagian sisi kiri dari kain cd.

Senja tersenyum manisss sekali sebelum kemudian melangkah mendekatiku. Aku terpana dan terbengong tak percaya pada semua itu. Baru saja jantungku dibuat mau copot. Sekarang kurasakan seperti ada seribu tukang batu sedang bekerja memasang kembali jantungku yang hampir copot itu. Semua keraguan sirna saat Senja melangkah ke arahku.

Senja sepertinya masih cukup amatir dalam kegiatan per-ehem-an seperti ini. Namun kata hati telah menuntunnya dengan pasti pada arah penyaluran gejolak menuju rasa yang melambung. Perlahan dia duduk kembali di pangkuanku. Dengan malu-malu ia membuka kaitan bra yang terletak di antara cup bra miliknya. Meski malu, nampak bahwa hasratnya begitu deras mengalir. Terlihat olehku sebuah pemandangan mega dahsyat kala bra Senja seluruhnya telah terbuka. Bongkahan bulat, montok, putih dengan puting merah muda sungguh membuatku haus. Haus untuk mereguk air kenikmatan cinta yang terlihat meleleh hingga menggenangi pelataran sukmaku.

Kupagut kembali belahan bibir mungilnya dengan tetap dalam alunan irama lembut nan menghanyutkan. Permainan bibir dan lidah yang gemulai syahdu saling melumat dan silih berganti membelitkan lidah pada lidah yang lainnya.

“Mmmhh... Mmmhhh...” desahan kenikmatan berciuman dialunkan Senja di iringi rasa getar aneh saat puting payudaranya menggesek lembut permukaan kemejaku yang berpermukaan kasar.

Kuturunkan Senja sejenak untuk memberi kesempatan pada tangan ini untuk menghempaskan helai demi helai pakaianku sehingga pada akhirnya kuhanya berbalut cd hitam kebanggaanku.

Kududukkan Senja dengan begitu lembut pada sofa yang sedari awal terlihat membisu dan memandang gelisah pada aksi percintaan kami, Hehehe... emang sofa bisa ngomong?

Kugetarkan puting indah Senja dengan ujung lidahku. Senja nampak terdongak merasakan getar gelegak rasa yang membius seluruh pikirannya. Kian lama semakin kuemut dan kupermainkan kedua bukit montok di dada Senja dengan seluruh mulut, lidah, dan jemari yang kupunya.
Kuingin memberikan segala getaran nikmat pada wanita terkasihku. Padahal aku juga suka sih, hehe...

“Ehm, mas Bintang. Sstt.. aduh..” bertubi auman seksi terlontar dari bibir sang harimau betinaku yang merasakan kenikmatan.

Aku terkaget tatkala tiba-tiba tangan Senja menggapai tonjolan di cd-ku. Sepertinya ia sudah begitu terangsang. Aku tak mengira bahwa Senja yang lembut gemulai itu ternyata memiliki keberanian yang cukup untuk meminta lebih pada pergumulan kami.

Dengan isyarat lirikan mata kuminta Senja bersamaan denganku membuka cd masing-masing. Dalam hitungan detik kami sudah dapat melihat barang pusaka masing-masing lawan jenis kami. Bibir V yang indah menawan. Terkatup rapat dengan bulu yang tertata rapi dan diapit kedua pangkal paha yang padat, mulus dan seksi. Uhh, sungguh aku dibuat mabuk kepayang oleh keseksian tubuhnya dan kecantikan wajahnya.

Kini kami sudah dalam posisi saling bertumpukan layaknya dua biskuit 'Oreo' yang disatukan.
Bibir kami bertemu, dada kami bersatu, si P dan si V juga asyik bercengkrama berdua di serambi.

Sambil berciuman, Senja mencoba mengarahkan batang P-ku kebagian V-nya. Kubantu dengan goyangan lembut untuk membuat mudah jalan memasukinya. Namun meski bukan perawan, V milik Senja cukup rapat untuk bisa menerima tusukan P-ku yang besar, kekar, dan berurat. Sebenarnya terlalu besar sih tidak, hampir sama besarnya dengan milik manusia Indonesia Raya lainnya. Tapi punyaku adalah masuk dalam jajaran kelas 1 jika seandainya seluruh P di negeri ini di jajar berbaris rapi untuk dilombakan tingkat kebesaran dan kepanjangannya.

Merasa masih cukup sukar menerobos lubang V kebanggaan Senja, aku berinisiatif untuk melumasi dahulu dengan ludahku. Ku segera meluncur jauh kebawah. Dihadapanku teronggok setangkup daging kenyal berbulu yang sepertinya sangat nikmat bila kucaplok.
Perlahan kuperintahkan lidah untuk menjelajah dan menerjang masuk pertahanan lawan. Kugempur habis pintu masuk dengan dorongan ujung lidahku. Jemariku sibuk menyibak segala penghalang perjuangan. Saat kutemui bulatan ranjau dibagian atas pintu gerbang kenikmatan Senja, segera kugosok habis-habisan dengan telunjukku agar dengan mudah bisa dijinakkan. Senja seketika meraung-raung seperti harimau betina melahirkan.

“Eh, aduh... mas! Euuhh... Mmmhh... Mas biin...tanng, aduhh...
Ssstt...” erangan nikmat Senja itu terus berkutat dan menderu di dalam ruangan dimana kami sedang memadu kasih.

Lambat laun V Senja menjadi terlihat basah oleh ludah dan juga cairan bening akibat rangsangan yang kuberikan. Inilah saatnya aku berjuang kembali membenamkan meriam ke dasar samudera cinta. Ak
u segera bangun dan mengambil posisi bertumpukan seperti pada awal tadi.

Senja membantu kembali mengarahkan batangku ke depan pintu gerbang kesejahteraannya. Kudorong sedikit demi sedikit dan secara pasti mulai memasuki daerah nikmat itu. Hampir separuh telah melesak masuk namun sementara kuhentikan gerakan agar Senja tidak terlalu kaget menerima perubahan isi dalam V-nya. Namun Senja sepertinya tidak sabar, dengan tangannya ia mendorong pantatku untuk menuntaskan pekerjaan enak yang masih separuh jalan. Dengan satu dorongan kuat akhirnya melesaklah si otong hingga menyundul sebuah dinding daging yang kuperkirakan adalah dinding menuju rahimnya. Senja mendelik seperti meregang nyawa, namun pulasan senyum tipis dibibirnya menunjukkan bahwa ia tidak sedang meregang nyawa melainkan sedang menghunus nafsu.

Pelan tapi pasti mulai kuajak si P untuk berjalan mondar-mandir keluar-masuk lorong daging berlendir milik Senja. Semakin lama irama semakin kupercepat dengan tempo konstan dan birama 4/4 (yee, emangnya lagi paduan suara bung?) Kuatur dinamika tusukan menjadi 3 kali tusukan setengah tiang dan diakhiri 1 tusukan panjang satu tiang. Terus menerus kulakukan dinamika itu sehingga Senja menjadi gila akan kepuasan yang terus menerus berusaha menderanya lagi, lagi dan lagi.

“Ehmm.. Aauuhh.. Aauhh.. Mas.. Masss…” berulang-ulang Senja terlonjak dan mengaduh nikmat saat tusukan satu tiangku bersarang di V pribadinya.

10 menit di posisi bertumpukan Senja sudah menggapai 2 kali orgasmenya. Akupun sepertinya sudah tidak tahan ingin muntah di pertemuan perdana ini. Dengan beberapa genjotan satu tiang yang bertubi-tubi akhirnya kurasakan kedutan siap meledak di ujung P-ku. Segera kucabut si otong dan kukocok di depan kedua bukit kembar Senja yang bergerak-gerak seiring dengan kembang kempis nafas Senja yang terlihat kelelahan. Tak lama kemudian 4 sampai lima semburan telah menghantarku menerjang batas kepuasan yang tiada tara. Aku pun duduk bersimpuh di lantai dengan menyandarkan kepalaku di perut Senja yang masih tertelentang di sofa.

DODOLIPRET.. DODOLIPRET..

Sebuah SMS mengejutkanku. Saat kulihat, ada nama Dandy disana.

DODOLIPRET.. DODOLIPRET..

Sebuah SMS lagi menyusul SMS pertama yang belum sempat kubuka. Namun SMS kali ini berasal dari Ita.

“Uh, apa-apaan sih mereka berdua?” segala pikiran berkecamuk dalam pikiranku sebelum kubuka SMS itu.

Senja hanya memandangku dengan senyuman menyejukkan.
Kulihat wajah ayu itu, wajah penuh kelembutan nan anggun. Kuingin memilikimu Senja. Kapankah kau bersedia menerimaku?

Kuhapus kedua SMS itu tanpa membaca isinya.
Aku sudah bener-bener gedeg plus jengkel dengan mereka. Bagiku, tak ada lagi ruang bagi mereka di ladang persahabatku selain hanya sekedar teman biasa.

JRENGG! Aku jatuh cinta... Tuk kesekian kali...

Ringtone lagu Dewa kembali bersuara di HP-ku yang menandakan bahwa ada panggilan masuk ke HP-ku. Kulihat layar dan kubaca nama Dandy disana. Dengan malas kuangkat telepon itu meski aku sedang berada di depan Senja.

“Ya, halo...” ucapku datar.

“Hei, Bin. Kok lu ga balas SMS gue?” sambung si penelepon yaitu Dandy dengan nada agak jengkel sepertinya.

“Ah, Dan... apaan sih, gue lagi sibuk man. Gak sempat buka SMS!” lanjutku dengan asal namun mengarah pada bentuk ketidak pedulian dalam ucapanku.

“Bin, lu harus dengerin gue. Gue merasa ga enak sama lu setelah kejadian itu. Ehhmm, gue mutusin mending si Ita buat lu aja deh, bro. Gue sudah coba berbicara ke Ita mengenai itu!” balas Dandy terdengar serius.

“Heh, man. Lu kira gue tukang loak? Penerima barang bekas, hah?
Lagian ngapain lu baru mikirnya sekarang? Dulu-dulu kemana aja lu?” sambutku dengan emosi yang meninggi dan sambil mengepalkan tangan. Kulihat Senja memperhatikan itu. Ia bangkit dan mendekat kepadaku. Ia elus pundakku demi untuk menenangkanku. Ohh, sejuknya perhatianmu, Senja.

“Lu dibaik-baikin kok gitu, man? Ah sudahlah, gue ga mo ngurusin lu lagi. Gue capek!” balas Dandy dengan panas juga sepanas ucapanku tadi yang pastinya membakar amarahnya juga.

“Nah, bagus itu! Ngapain juga lu pusing-pusing mikirin gue? Udah deh, met berbahagia aja buat lu ama Ita-mu itu!” kujawab ucapan Dandy dengan cibiran benci tingkat tinggi dan langsung kumatikan telepon.

“Ada apa, mas? Masalah Ita lagi? Tuh anak emang manjanya gak ketulungan. Bisanya ngerepotin orang mulu!” ucap Senja saat kumatikan telepon.

“Iya tuh, tau. Biarin aja deh. Ehm, Senja... emang kamu ga cemburu kalau aku masih di kejar-kejar Ita? Hehehe...” tanyaku pada Senja dengan jahil.

“Ih, mas Bintangg... Uh, pokoknya Senja gak mau jawab. Biarinnnn! Senja ga akan jawab sekarang!” jawab Senja sambil manyun tujuh turunan seperti anak mama yang sewot karena ga dibeliin permen lollypop sama mamanya.

Aku hanya tersenyum meski dalam hati tersembul seribu tanda tanya tentang Senja yang kian hari kian ngegemesin namun kian hari pula kian membingungkan.

***

Malam yang sejuk, aku sudah tidur sejak sore akibat hujan yang mengguyur begitu dingin alam semesta ini. Orang rumah sedang ikut rombongan pengantar haji ke bandara. Daripada bengong sendiri, aku memilih untuk tidur saja.

Malam belum terlalu larut saat kubermimpi tentang seorang cewek manis. Malam itu si cewek hadir dalam mimpiku dalam keadaan bugil polos sepolos-polosnya. Dadanya membusung padat dan menggiurkan. Pantatnya padat membulat seperti burger double cheese. Terus terang melihat keindahan nan seksi itu membuat batangku langsung berdiri tegak dalam sikap sempurna. Ia berdiri di samping ranjangku sambil membelai pipiku dengan lembut. Tak kusia-siakan kesempatan, kuremas kedua bukit di dadanya dengan gemas dan penuh nafsu. Perlahan si cewek meremas batangku yang masih tertutup celana kolor meski di dalamnya sudah tanpa cd. Aku hanya pasrah penuh dengan pengharapan mesum kepadanya.

Dengan gerakan cepat ditariknya celana kolorku hingga sebatas lututku. Dengan buas ia seruput batangku layaknya seorang bocah menikmati ice cream. Aku kelojotan dibuatnya. Kuluman dan hisapannya di batang P-ku begitu terasa mahir tanpa mengenai giginya sama sekali. Permainan lidahnya di burungku juga demikian nikmat seperti seorang ayam kampus kelas atas dengan tarif mahal karena keahliannya yang super mantap.

Tak bertahan terlalu lama aku merasakan tubuh ini merinding. Sesaat kemudian kusempotkan cairanku ke dalam mulutnya dengan begitu deras. Si cewek nampak menikmati cairan itu, seluruh cairan ia telan habis tanpa tersisa sedikitpun. Sepertinya aku sedang mengalami mimpi basah.

HAHHH...!!!

Aku terlonjak bangun dari tidurku saat kurasakan ada tubuh yang menindihku. Kuterduduk dan tubuh itu melompat turun dari atas tempat tidurku. Ia hanya berdiri mematung dan menunggu reaksiku. Kulihat tubuhku, celana kolorku sudah melorot sampai kelututku. Diujung, P-ku terlihat merah seperti baru selesai dipakai 'ihik-ihik', dan ada sedikit cairanku yang tersisa di bagian puncak P-ku.

Aku melotot tidak percaya. Kuluman yang kurasakan dalam mimpiku tadi apakah benar-benar terjadi? Kupandang kembali tubuh bugil yang masih mematung di tepi ranjangku.

APAAA!!! ITA??

aku mendelik sejadi-jadinya melihat kenyataan itu. Si cewek yang ternyata Ita semakin menunduk tak berani memandangku. Aku beringsut mundur hingga tembok. Aku seperti tak percaya dengan semua ini.

“J-jadi... kamu yang tadi menjilat P-ku, hah?” hardikku penuh amarah yang berkobar-kobar.

“I-iya, kak. Maaf. Kakak tadi juga sepertinya suka waktu meremas dadaku!” balas Ita dengan takut-takut.

“Kurang ajar kamu! Sembrono! Kamu nekad banget jadi orang?!” imbuhku masih dalam suasana kemarahan yang tak juga padam.

“Ma-maaf, kak. Jangan marahin Ita. Ita sayang sama kakak. Lagian, eee... Ita pernah lihat waktu kakak curi-curi pandang pada dada, paha, dan pantat Ita. Ita mau kasih ini semua buat kakak.” ucap Ita sambil melangkah maju mendekatiku dan berusaha memelukku.

“Hei-hei, stop! Kamu apa-apaan sih?! Iya memang aku akui kalau aku sering mupeng jika melihat tubuhmu. Dulu aku sangat-sangat sayang sama kamu. Tapi itu dulu saat kamu belum milik Dandy! Sekarang... maaf! Aku terlalu takut untuk merebut pacar temanku sendiri. Apa kata Dandy jika dia sampai tahu kalau kita tidur bareng disini, hah? Sudahlah, It... cukup!” ucapku dengan menggebu-gebu mirip pidato Bung Tomo saat memperjuangkan kemerdekaan arek-arek Suroboyo dari tangan penjajah.

Ita menjadi mundur kembali ke posisi semula.
Aku baru sadar bahwa sebelum aku tidur tadi aku lupa untuk mengunci pintu rumahku. Hal itu dimanfaatkan Ita untuk menyelinap masuk ke dalam rumahku dan bahkan menerobos hingga ke kamarku. Aku sadar jika aku memang masih cinta kepada Ita. Aku juga lelaki normal yang pasti akan bertekuk lutut jika disuguhi pemandangan dan jajanan khas kewanitaan milik cewek yang kucintai. Namun cinta kepada Ita adalah sepenggal kisah lalu yang tak mungkin untuk kuukir kembali. Semuanya memang belum terlambat, tapi aku sudah cukup muak dengan aturan main yang terlanjur ditetapkan oleh Dandy dan Ita. Aku tak mau lagi. TITIK.

“Kak, Ita sudah bilang ke dandy kok mengenai ini. Dia merelakan Ita buat Kakak. Jadi ga usah di takutkan lagi ya,” imbuh Ita sambil melipatkan kedua tangannya ke depan tubuhnya akibat udara dingin malam yang semakin meluncur pada celcius lebih rendah.

“Ita, dengerin aku, kamu sekarang cepetan pakai bajumu. Pulanglah sana. Bilang pada dandy bahwa aku bukan lelaki yang butuh belas kasihan. Kamu sudahi saja perjuanganmu untuk mendapatkan cintaku kembali karena sekarang, lusa, dan selamanya aku ga akan mencoba untuk mencintaimu lagi. Bagiku cukup sekali aku mencintaimu, dan mencintaimu ternyata sakit. Udah sana segera pulang.” ucapku penuh ketegasan meski jujur hati ini cukup bergetar saat mengucapkan itu. Aku juga kaget dengan diriku sendiri saat mampu berucap arif dan bijaksana seperti itu.

“Ini gara-gara ada kak Senja di hati Kak Bintang ya sekarang?” tanya Ita sambil ia memakai pakaiannya kembali.

“Sudah kubilang, jangan sangkut pautkan Senja dengan semua ini! ini adalah jalan hidup yang sudah digariskan Tuhan!” jawabku dengan nada tinggi dan amarah yang kembali memuncak. Mataku menatap sadis pada wajah Ita seakan kebencian telah memadamkan jiwa welas asihku.

Ita menangis tersedu dan berlari keluar. Mungkin ia merasa ini tak adil baginya. Namun semua akibat adalah buah dari perbuatannya sendiri. Semoga suatu saat ia akan mengerti bahwa semua yang dia inginkan tak akan semudah ia mendapatkannya.

***

Beberapa bulan sejak aksi 'pemerkosaan' Ita terhadapku, aku sudah tidak pernah lagi berkontak dengan Ita maupun Dandy. Hubunganku dengan Senja juga semakin dekat dan tentu saja semakin lama semakin membaik. Aku sudah bertekad untuk 'menembak' Senja sekali lagi mengingat sekarang Senja juga terlihat cukup menunjukkan perhatian dan sayang yang lebih padaku.

Hari Minggu pagi aku merasa boring di rumah tanpa teman karena keluargaku juga sedang ada arisan keluarga besar di luar kota. Sebenarnya aku ditawari untuk ikut serta dalam acara arisan tersebut, namun aku tergolong cowok yang cukup susah untuk diajak acara-acara keluarga semacam itu. Bagiku, kegiatan semacam itu hanya akan membuat aku akan terlihat seperti anak mama.

Siang itu aku berencana pergi ke rumah Senja untuk berkunjung, bercengkrama, dan meminta 'jatah' seteguk dua teguk kenikmatan air surgawi, hehehe. Aku bersegera mandi dan bersiap-siap dengan tak lupa menyemprotkan minyak wangi MIRACLE kesukaan Senja. Kata Senja, wanginya bikin semriwing, padahal aku tahu banget bahwa pasti dia merasa terangsang setiap mencium wangi MIRACLE-ku, hohoho.

“Mas bintang,” sebuah suara halus cewek mengagetkanku yang sedang asyik menyemprotkan minyak wangi dan bersiap memakai pakaian.

Dengan berlilitkan handuk di pinggang kulongokkan kepalaku keluar pintu kamar. Kulihat Senja sedang berdiri di ambang pintu ruang depan.

“Eh, Senja. Ini aku lagi siap-siap mo meluncur ke rumah kamu.
Eh, kamunya malah yang duluan kesini. Masuk aja, aku lagi ganti baju.” teriakku mempersilahkan Senja masuk.

SUIITT... TUIITT... TIIITT... TIIT...

Siulan di bibirku mendendangkan lagu sambil kuberanjak untuk berganti pakaian. Kubuka handuk penutup satu-satunya tubuhku untuk menggantinya dengan pakaian.

AWWWW...!!!

Sebuah teriak senja membuatku kaget bukan main. Ternyata sedari tadi Senja sudah duduk manis di tepi ranjangku dan aku tak menyadari itu. Nampak ia terkejut melihat bagian belakang tubuhku yang telanjang.

“Ih, Senja, kenapa ga tunggu diluar aja sih? Tapi biarin lah, udah kepalang tanggung ini.” ucapku pada Senja seakan aku sungkan terlihat ke-bugilan-ku dihadapan cewek ayu tersebut.

“Eh, Senja, sini deh bentar!” ucapku lagi pada Senja dan langsung dituruti Senja karena sepertinya aku sedang butuh bantuan sesuatu.

“Huh, mas Bintang nyebelin.” Senja berteriak nyaring saat kutarik tangannya daan kugenggamkan ke batang P-ku yang berdiri bebas.

“Sebel tapi suka kan?” selorohku pada Senja yang terlihat malu tapi mau.

Tak perlu menunggu jawaban dari Senja, langsung saja kulumat bibirnya namun dengan pelan karena aku takut dia nangis lagi. Senja tak menolak, bahkan kurasakan telah terjadi peningkatan gejolak remasan di batangku oleh sebuah tangan lembut.

Aku kali ini merasakan menjadi seorang manusia paling nestapa di dunia ini. Betapa tidak? Aku sudah telanjang bulat di depan seorang cewek ayu. Aku nampak menjadi seorang yang seronok sekali karena mempertontonkan alat kelamin pria kepada seorang cewek. Namun si cewek masih berpakaian rapi. Salahkah aku merasakan bahwa semua ini tak adil bagiku? Aku harus menuntut balas dengan melakukan pelucutan pada cewek itu. Dia harus merasakan perasaan yang setimpal dengan perasaanku yang merana ini, hehehe.

Dengan perlahan dan dalam kehati-hatian yang tinggi, kutarik ke atas kaus Senja. Si cewek ayu membantu mempermudahnya dengan mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi untuk memberi jalan kemudahan bagi perbuatanku. Sukses besar dalam pelucutan pakaian bagian atas, pelucutan kulanjutkan dengan membuka kaitan kancing rok denim selutut Senja. Di depanku kini tengah bertengger, eh... salah! Berdiri seorang Senja seksi nan aduhai dengan hanya memakai cd mungil berwarna maroon dan bra dengan warna yang senada. Bagiku warna itu sungguh membuat Senja terlihat begitu seksi aduhai. Mataku melotot-tot-tot-tot dibuatnya.

Tak puas hanya melihat bagian indah yang masih tertutup kain maroon, kujelajah punggung Senja untuk menemukan kaitan bra-nya. Dengan sekali tarik, terlepaslah kain maroon itu dari tempatnya dan melontarlah keluar dua buah daging kenyal menggoda. Aku tak langsung menyosor daging gemuk itu melainkan segera berjongkok untuk menyelesaikan tugas pelucutan. Tarikan yang lembut pada tepian bawah cd Senja mengakhiri tugas pelucutan yang sedang kujalani.

“Eemmhh...” Senja melenguh tertahan tatkala lidahku menyeruak ke dalam bibir V-nya dalam posisi dia berdiri sambil menopangkan satu kakinya kepundakku yang sedang berjongkok di hadapan V legitnya.

Perbuatan oral terhadap si V semakin kutingkatkan diiringi rengkuhan jemari di area sensi Senja yang berada di balik lipatan-lipatan labia mayora. Lidahku semakin aktif mengobok dan bergeser semakin keatas untuk berusaha meraih bulatan semacam kacang yang bertengger santai di ujung atas V Senja.

“Ehhmm.. Ssttt.. Aahhh..” desahan semakin deras terlontar dari bibir mungil Senja yang menggemaskan saat kukerjain bagian berkacangnya.

“Aauuhh.. Mas.. Aaahh..” Senja merancau lagi dan kali ini kurasakan adanya peningkatan aliran benda cair di goa miliknya. Nampaknya Senja meraih orgasme yang pertama siang itu.

Kugendong Senja berhadapan dan kuminta dia membantu mengarahkan P-ku ke V-nya.
Posisi Senja sekarang sedang menempel di tubuhku yang sedang berdiri tegak. Kakinya melingkar erat di pahaku sebagai pengait agar tidak terjatuh. Lengannya merangkul erat ke tengkukku dan bibir kami saling bercumbu menikmati gejolak rasa. Dengan dua sampai tiga dorongan, si P sudah asyik berenang jauh di kedalaman laut berlendir milik Senja. Tanganku mengangkat dan menggoyang bagian pantat Senja untuk mempermudah setiap tusukan dan goyangan.

10 Menit dalam posisi 'Sex in Gendongan' aku ingin mencoba sensasi gaya lainnya. Aku sudah bertekad untuk bertahan sekuat tenaga menjaga si P agar tidak melakukan semprotan dahulu seperti kali pertama kami bercinta.

Kutidurkan Senja sang dara tercantikku diatas meja belajar di sudut ruangan. Kugamitkan kedua kakinya di bahuku yang sedang berdiri dihadapannya. Dengan sekali dorongan, melesaklah lagi si otong marotong pararotong ke samudra kesukaannya.
Gerakan dinamika tusukan 3:1 seperti saat aku berhubungan kali perdana dahulu dengan Senja kembali kulakukan. Seperti biasa, Senja menjadi meraung-raung tak terkendali.

“Aahh.. Mass Bintang.. Aahh.. Aahh..” Senja meraung sambil membuka mulutnya seperti mulutnya sedang mengulum bara sehingga membuat dia tak mampu menutupnya.

“Ssttt.. Aahhh.. Aaaa..” Senja terus menerus meraung dan mendesis seperti ular kepedasan. Kulihat punggungnya melengkung indah. Sepertinya ia sedang mengalami orgasmenya yang ke dua.

Menit sudah menunjukkan angka ke-25 sejak kami memulai permainan tadi. Kali ini aku sudah tak tahan lagi.

“Uh, Senja.. Boleh aku keluarin di dalem?” ucapku terbata.

“He-emm..” Senja mengangguk sambil menahan getaran yang sangat besar di seantero kerongkongan jiwanya.

***

Kami masih berpelukan diatas ranjang cinta meski sudah sama-sama berpakaian. Aku merasakan perasaan sayang yang mendalam pada wanita yang sedang ada di dalam pelukanku itu.

“Senja, aku... aku... cinta sama kamu. Mau ya jadi kekasihku?” bisikku di telinga Senja dengan lembut sampai membuat ia kegelian karena hembusan nafasku di rongga telinganya.

KRIIINGG...!!!

“Halo... Senja, pulang ya. Ini ada paman Redo dari kalimantan datang. Dia cuma sebentar transit di bandara, sekarang sedang mampir sejenak ke rumah. Buruan, paman ingin ketemu!” ucap sebuah suara dari seberang telepon yang sepertinya adalah mama Senja.

“Oh, iya, ma. Segera meluncur.” ucap Senja singkat.

***

Sepulang Senja, aku menjadi duduk termenung sendiri.
Kurasa sebuah ganjalan besar karena belum sempat menerima jawaban dari Senja tentang ungkapan perasaanku namun ia terlanjur buru-buru pulang. Ah, gagal maning-gagal maning. Huhh!

JRENGG..!!!

HP-ku berbunyi, ada sebuah nomer lokal menghubungiku. Dengan malas kuangkat telepon. “Haloo..” ucapku tak bergairah.

“Selamat sore, pak Bintang, ini dari kepolisian resort kota.
Apakah anda kenal dengan seorang perempuan bernama Senja Hadiningrat. Kami menemukan nomer HP anda di tumpukan teratas inbox SMS di HP sdri. Senja!” ucap seorang pria yang ternyata adalah seorang polisi.

“Oh, iya.. iya, pak.
Ada apa, pak?” jawabku penuh antusias, kaget, dan gemetaran.

“Kami minta anda segera datang ke RS.
Sdri. Senja terluka parah. Ia mengalami tabrak lari di jalan W pada pukul 14.45 tadi.” lanjut pak polisi dengan lengkap dan detail.

Tanpa menunggu lagi, aku segera memacu sepeda motorku gila-gila-an menuju RS.
Kugeber habis motorku seperti dulu ketika aku ngebut gara-gara sakit hati terhadap Ita.

***

Dua orang polisi menahanku untuk memasuki kamar IRD rumah sakit. Langkahku terhenti, salah satu polisi bertanya dan memastikan apakah aku adalah Bintang yang ditelepon tadi. Polisi tersebut akhirnya menceritakan runtut kejadian yang menimpa Senja. Menurut saksi mata, seorang pengendara motor berkostum serba gelap seperti memang sengaja membuat Senja jatuh. Gerak-geriknya cukup terlihat seperti sedang mengincar Senja. Saat Senja menyalip sebuah mobil pick up dari sebelah kanan, tiba-tiba 'si gelap' juga ikutan menyalip dan memposisikan motornya sejajar dengan motor Senja. Pengendara itu terlihat dengan sengaja menendang motor Senja dan kemudian kabur. Senja yang oleng langsung terjatuh dan di sambut oleh mobil pick up yang belum selesai disalipnya. Namun pihak kepolisian telah berjanji untuk mengusut tuntas dan menyelidiki siapakah pelakunya. Barang bukti dan saksi mata menjadi kunci atas semuanya.


Aku tersedu mendengarnya. Betapa tragis nasib yang dialami Senja. Dengan Hp Senja yang kupinjam dari pak polisi, kucari phonebook mama Senja. Segera kuhubungi dan kuminta keluarga Senja segera datang ke rumah sakit.

***

Sekitar 3 jam aku menunggu hasil perawatan intensif terhadap Senja.
Saat itu mama dan kakak laki-laki Senja telah duduk bersamaku di kursi tunggu. Kala itu Papa Senja sedang ada tugas belajar di kuala lumpur selama 3 bulan dan tak mungkin akan hadir di rumah sakit seketika itu juga.

“Siapakah kerabat Senja?” ucap seorang dokter yang muncul dari balik pintu perawatan. Kami segera menghambur ke arah dokter tersebut.

“Setelah kami berjuang begitu lama... maaf, nyawa sdri Senja tidak dapat tertolong.
Pendarahan akut dibagian kepalanya begitu berat dan sangat kritis. Sekali lagi kami dari pihak rumah sakit memohon maaf yang sebesar-besarnya. Kami turut berduka cita atas kejadian ini.” lanjut dokter itu lagi dengan penuh rasa penyesalan yang mendalam.

Sontak seisi ruangan tunggu menjadi hingar bingar oleh suara raungan tangis kami. Aku dan seluruh yang ada disana merasa tak percaya pada kenyataan yang telah terjadi ini. Aku terduduk di pojok tembok ruangan sambil menangis sejadi-jadinya.

“Mengapa, Senja? Mengapa kamu harus hadir dalam hidupku jika hanya sesaat lalu pergi? Mengapa, Senja?!” teriakku di sela tangis yang berkepanjangan dan memilukan.

***

Meski ragamu tak lagi menyentuhku
Jiwa ini takkan lepas dari dirimu
Walaupun ini harus terjadi
Kutahu kita kan abadi selamanya

Kuyakinkan kau selalu memandangku
Karena jiwa ini takkan lepas darimu
Walaupun ini harus terjadi
Kutahu kita kan abadi selamanya

Sebuah lagu milik ALENA, seorang juara Asia Bagus tahun 2000 berjudul T'LAH PERGI, segera kudownload dan kuputar keras-keras lewat handsfree HP-ku. Oh, Senja... Aku menangis dalam iringan lagu pilu Alena itu.

***

Setiap malam setelah kejadian meninggalnya wanita terkasihku, aku aktif membaur bersama keluarga Senja. Kami menjadi lebih dekat dan akrab pasca kejadian meninggalnya Senja. Lebih-lebih sang mama, nampak beliau begitu sayang padaku karena beliau tahu bahwa aku adalah pria yang sangat disayangi mendiang Senja beberapa bulan sebelum ajal menjemputnya.

Tepat seminggu setelah kejadian, aku mendapatkan telepon dari mama Senja bahwa polisi telah berhasil membekuk tersangka penabrakan atas Senja. Bersama mama Senja aku meluncur menuju kepolisian untuk melihat sang pelaku yang biadab dan tak berperikemanusiaan itu.

“Bangsattt!
Jadi lu ternyata otak kotor dari semua ini?! Berengsek lu!”  PRAKKK... PRAKK... umpatan kekesalanku terlontar dengan beringas beriring setengah lusin hantaman pukulan tanganku ke wajah si pelaku keparat itu.

“Apa maksudmu mencelakai Senja, hah? Berengseekkk!” BUUKK.. BUKKK.. kumpulan kosakata jalananku muncul, selusin lagi kuhadiahkan pukulan telak ke arah perut dan dada pria tersebut namun akhirnya dihentikan oleh polisi dan mama Senja yang menyaksikan aksi pukulku yang terlihat kesetanan.

“Ma-maaf, Bin. A-aku awalnya hanya ingin memberi peringatan ke Senja supaya menjauh darimu. A-aku tidak tahu kenapa semua jadi begini Aku tak ada niatan untuk membunuh Senja!” ucap si keparat yang ternyata seperti sangat mengenalku.

“Alasan! Lu emang paling suka sirik kalau lihat gue deket sama cewek. Bangsat lu! Gue gak sudi lagi kenal sama lu!” semprotku dengan nada tinggi setinggi amarahku yang menjulang hampir menembus alam bawah sadarku.

“Ampun. Maafkan aku, Bin. Ini semua gue lakuin karena rasa cinta gue kepada Ita. Apapun rela gue lakuin agar cewek yang gue cintai bahagia. Gue melihat Ita sangat cinta sama lu, makanya gue berniat mengancam Senja. Tapi swear, gue ga ada tujuan buat ngebunuh dia. Gue cuma mencoba membuatnya terjatuh lalu gue rencananya mau ngancam Senja setelah itu. Tapi...” balas si tersangka yang ternyata adalah Dandy sahabat nge-band ku.

Aku berusaha menutup telinga dari semua alasan dan pembelaan Dandy. Bagiku, kelakuan gila Dandy terhadap Senja itu sungguh kurasa tidak adil bagi Senja.
Aku dan mama Senja menuntut kepada polisi agar menghukum Dandy dengan balasan yang setimpal dengan perbuatannya.

***

Minggu malam yang kelam, dua minggu setelah kejadian.

JRENGGG...!!!

Suara HP-ku berbunyi. “Nak Bintang, bisa ke rumah? Mama mau ngomong!” sebuah suara lembut khas suara keibuan yang ternyata adalah suara mama Senja muncul sesaat setelah aku angkat telepon.

“Iya, ma. Segera meluncur.” sebuah kalimat yang pernah diucapkan Senja sesaat sebelum kejadian tabrak lari kembali kuulang demi mengingat bunga hatiku itu.

“Nak Bintang, mama mau cerita. Mama percaya nak Bintang adalah lelaki yang baik. Oleh karena itulah, mama berani membuka cerita keluarga ini ke kamu.” ucap mama Senja setelah aku tiba di rumah Senja dan duduk di sofa yang dulu pernah kugunakan sebagai tempat memadu kasih bersama Senja.

“Nak, mama memiliki 3 orang anak. Yang pertama adalah kakak laki-laki tertua Senja yang bernama Pesona.” lanjut sang mama. Sebenarnya aku ingin tertawa ngakak saat mendengar nama kakak laki-laki Senja tersebut, namun tentunya aku tak berani melakukan itu di depan mama Senja. Apalagi aku dan seluruh penghuni rumah itu sedang dalam masa duka.

“Anak mama yang kedua adalah Gita dan yang terakhir adalah Senja. Gita sejak kecil ikut dan diasuh oleh pamannya bernana Redo di kalimantan sana karena hingga kini paman Redo belum dikaruniai seorang anakpun dari perkawinannya dengan tante Shinta. Sebentar lagi paman akan tiba di sini dan mengembalikan Gita ke mama.
Paman merasa kasihan melihat mama terus menerus memikirkan Senja. Paman berharap Gita bisa sedikit menjadi obat pada kegetiran nurani mama.” imbuh mama Senja dengan penuh penghayatan. Aku hanya diam dan mengunci mulut karena aku juga tak tahu harus berkata apa.

“Nak, tolong bantu mama mewujudkan harapan Senja untuk menjadikan kamu menantu mama. Tolong kamu pinang Gita!” tambah sang mama.

Kalimat terakhir ini begitu membuatku terperanjat. Aku tak menyangka jika mama Senja akan mengajakku mengobrol tentang masalah ini. “Emm, begini ma, saya tahu mama sayang pada Senja, begitu juga saya. Namun mama juga harus adil pada perasaan saya dan terutama lagi pada perasaan Gita. Belum tentu saya ataupun Gita bisa saling mencintai. Tolong berikan kami waktu dan kesempatan untuk memikirkan ini. Bisa jadi Gita juga meminta mama mengikuti perasaan cinta Gita pada lelaki yang dia mau. Maaf ma jika saya lancang.” balasku dengan penuh rasa hormat dan tidak mengurangi rasa simpatikku pada beliau.

TOK.. TOK.. TOOK..

Sebuah ketukan menghentikan obrolan kami. Karena asyiknya kami ngobrol, kami tak menyadari jika ada tamu yang datang.

“Mamaa...!!” sebuah suara lembut mirip suara Senja keluar dari mulut seorang gadis seumuran Senja yang sedang berdiri di ambang pintu bersama seorang bapak-bapak setengah baya.

Setelah tadi aku dibuat terbelalak oleh permintaan mama Senja yang mengejutkan, sekarang sekali lagi aku dibuat terperanjat oleh sosok perempuan yang muncul itu. Kukucek-kucek mataku seperti tidak percaya pada apa yang aku lihat. Tapi ini nyata adanya. Aku melihat seorang Senja sedang tersenyum ke arah kami.

“Nak Bintang, perkenalkan, ini Gita saudara kembarnya Senja!” ucap mama setelah mempersilahkan duduk pada Senja gadungan dan seorang lelaki yang nampaknya bernama paman Redo seperti apa yang diceritakan mama tadi.

Aku melotot tanpa bisa berkata-kata lagi. Ini seperti mimpi. Aku melihat Senja duduk kembali dihadapanku. Tapi sadarlah Bintang, ia bukan Senja, tapi GITA.

“Nak Bintang, ketiga anak mama bernama Pesona, Gita, dan Senja. Semuanya bernama belakang Hadiningrat. Gita dan Senja adalah anak kembar saya.” imbuh mama Senja dengan penuh keyakinan karena melihat wajahku yang merasa tidak percaya pada kenyataan ini.

Aku ulurkan tanganku untuk mencoba berjabat tangan dengan Gita karena masih penasaran dengan mahkluk yang ada dihadapanku, apakah bukan mahkluk halus?

“Perkenalkan, namaku Gita, mas. Kak Senja sudah banyak cerita tentang mas Bintang. Terakhir sebelum meninggal, dia sempat berpesan aneh kepadaku untuk menjaga mas jika misal kak Senja kenapa-kenapa. Awalnya aku kaget dengan ucapan kakak, tapi ternyata itu adalah petunjuk dan amanah yang harus aku jalani!” ucap Gita dengan tersenyum kepadaku manisss sekali, semanis senyuman Senja saat masih disisiku.

Malam kehadiran cinta
Sambut jiwa baru
Telah lama kutunggu
Hadirmu disini
Namun hanya ruang semu
Yang nampak padaku
Meski sulit harus kudapatkan

Kerinduan yang mendalam
Terbitkan hasratku
Sambutlah tangan ini
Terima janjiku
Rasakan cinta yang tulus
Lewat aliran darahmu
Menyatu seiring dalam kasih

Bait lirik lagu AURAKU – ADA BAND terlintas dibenakku. Silih berganti kupandang wajah mama, Gita dan paman Redo. Haruskah kutersenyum, ataukah aku harus bersedih?

END


Author : Figur-X