My Teacher - 2

Bookmark and Share
"Tapi Bu.," kataku padanya.
"Diam!" bentaknya dengan marah.
"Tapi Ibu bilang..,"
"PPLLAKK!!" Sebuah tamparan keras mengenai pipiku.
"Diam!" bentaknya lagi.

Aku terdiam sambil tanganku mengusap-usap pipiku yang panas.

"Perbuatan kamu kemarin benar-benar kurang ajar, tidak ada hukuman yang sebanding dengan perbuatanmu," katanya padaku.

Dia terdiam sejenak.

"Sekarang kamu pulang!" katanya padaku.
"Saya bersedia dihukum apa saja Bu" kataku padanya dengan cepat.

Dia kembali terdiam, tampaknya sedang menimbang-nimbang perkataanku.

"Apa saja?" tanyanya.
"Iya Bu apa saja," jawabku yakin.
"Baik mulai sekarang kamu lakukan apa yang Ibu suruh, jangan sekali-kali melawan," katanya padaku.
"Baik Bu," jawabku sedikit kesal.

Aku melihatnya tersenyum padaku. Aku menatap matanya seakan menunggku apa yang akan dia perintahkan padaku.

"Kebelakangkan tangan kamu," katanya padaku.

Aku menuruti perintahnya meskipun aku heran sekali mendengar perkataannya. Ibu Anna berjalan kebelakangku dan tangannya dengan lembut memegang kedua tanganku yang terletak dibelakang. Jantungku berdetak cepat merasakan tangan lembutnya memegang tanganku, bahkan tangan Bu Anna yang lain meremas-remas pantatku. Aku merasa terkejut dan tidak nyaman dengan perlakuannya, namun aku tidak berani berkata apa-apa. Meskipun Ibu Anna dibelakangku aku dapat merasakan dia sedang mengerjakan sesuatu dibelakangku. Aku tidak berani menoleh kebelakang karena aku tahu Ibu Anna bisa sewaktu-waktu berubah pikiran, maka itu sekarang ini aku lebih baik tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya.

Dengan cepat Ibu Anna selesai mengikat kedua tanganku. Ketika aku sadar apa yang terjadi padaku aku memberanikan diri melihat apa yang terjadi padaku. Aku melihat kedua tanganku diikat dengan sesuatu, tampaknya itu adalah sebuah BH berwarna putih. Aku mencoba menggerakan kedua tanganku, tapi nampaknya Ibu Anna mengikat dengan benar-benar kuat

Terkejut dengan keadaanku, dengan cepat aku membalikkan badanku sehingga berhadapan dengannya. Sebuah tamparan keras mengenai wajahku sesaat sebelum aku mengucapkan sesuatu. Kali ini Ibu Anna menampar dengan sekuat tenaganya. Tidak siap akan hal itu akupun kehilangan keseimbangan dan jatuh terjerembab dilantai.

"DIAM! Jangan banyak bicara," bentaknya padaku.

Aku telungkup di lantai. Kukejap-kejapkan mataku mengusir cahaya kelap-kelip. Aku merasakan sesuau menindih tubuhku, tampaknya itu adalah tubuh Ibu Anna. Tangannya melepas tali pada celemek yang sejak tadi masih aku kenakan. Lalu dia membalikkan tubuhku. Tangannya bekerja dengan cepat melepas ikat pinggangku. Selama dia melakukannya aku tidak berbicara apa-apa. Jika tadi aku takut dia akan melaporkanku, kini aku takut jika dia kembali menamparku. Tamparannya benar-benar keras, sampai sekarang aku masih merasakan pipiku panas terbakar dan kepalaku berdenyut-denyut karenanya.

Ibu Anna mencoba mengikat kakiku dengan ikat pinggang yang berhasil dilepasakannya dari celanaku. Aku mencoba memberontak setelah mengetahui apa yang akan dilakukannya namun terlambat, dia sudah mengikat dengan kuat kedua kakiku. Dia melibat kedua kakiku dengan ikat pinggangku lalu menguncinya.

"Bu kenapa?" aku ingin bertanya banyak hal namun cuma itu yang keluar dari mulutku.
"DIAM!" bentaknya.

Kemudian dia melakukan sesuatu yang tidak terduga. Dia melepaskan celana pendeknya lalu masih tetap di hadapanku dia melepaskan celana dalamnya juga. Dengan tanpa halangan aku dapat melihat vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat. Dengan cepat dia melepaskan tali pada celana pendeknya lalu dia membawa tali itu bersama dengan celana dalamnya ke arahku. Penisku dengan cepat menegang melihat pemandangan di depanku itu. Dengan tangannya Ibu Anna menjepit hidungku dengan pelan. Untuk menghirup udara aku membuka mulutku dan pada saat itulah tangannya mencengkram pipiku, kemudian dengan kasarnya dia memasukkan celana dalam yang bekas dipakainya itu ke dalam mulutku. Dia menekan-nekan celana dalam itu dengan keras sehingga membuatku hampit tersedak. Tidak hanya sampai disana, setelah celana dalam itu masuk seluruhnya dalam mulutku dia mengikatkan tali yang tadi dibawanya melingkari mulutku yang tersumpal celana dalam itu lalu mengikatnya. Kini meskipun aku berusaha sekuat tenagaku aku tidak bisa mengeluarkan celana dalam itu dari mulutku.

Setelah sesaat aku baru merasakan rasa asin dimulutku. Aku yakin asalnya dari celana dalam itu. Aku memang tidak pernah merasakan cairan wanita, namun dari artikel yang pernah kubaca, cairan itu berasa asin. Dengan puas Ibu Anna melihat hasil pekerjaannya pada diriku. Melihat hasil pekerjaannya yang cepat pastilah hal ini sudah direncanakannya. Aku terbaring tak berdaya. Kedua tanganku terikat dengan kuat, demikian pula dengan kakiku. Mulutku tersumbat penuh oleh celana dalam miliknya.

Kancing kemejaku sudah dilepaskan semua olehnya. Dada telanjangku terpampang dengan jelas. Ibu Anna tidak berhenti sampai disana. Tangannya dengan cepat membuka kancing celana jeans yang kukenakan, membuka retsletingnya lalu dengan cepat memelorotkan celana itu sampai kelututku. Kini praktis tinggal celana dalam berwarna hitam yang masih menutupi tubuhku. Penisku yang tegang tercetak jelas disana. Ibu Anna melihatnya dengan pandangan mengejek ke arahku. Dengan sekali tarik celana dalam itu merosot sampai ke lututku. Aku berusaha menggerakkan tubuhku kesamping untuk menutupi ketelanjanganku. Aku malu sekali akan keadaanku sekarang apa lagi di hadapanku adalah Ibu Anna, guru yang kusukai.. Dulu.

Ibu Anna dengan santainya menahan pinggulku dengan telapak kakinya, praktis aku sudah tidak bisa bergerak lagi. Perlahan telapak kaki Ibu Anna bergerak ke arah penisku yang tegang. Dengan lembut dia mengusap-usap penisku dengan kakinya, lalu kakinya perlahan bergerak ke testisku. Dengan jari-jari kakinya dia memainkan testisku.

Aku menatapnya seakan tidak percaya bahwa dia adalah Ibu Anna yang selama ini kukenal. Aku merasa sakit oleh karena perbuatannya, namun yang lebih kurasakan adalah rasa malu.

"Enak ya?" katanya padaku sambil tersenyum.
"Mpphh.. Mpphh," aku berusaha mengatakan sesuatu namun sumpal dimulutku tidak memungkinkan aku untuk mengeluarkan suara yang bisa dimengerti.

Ibu Anna berjalan menujuku sampai berada dekat sekali denganku. Dengan perlahan dilepaskannya kaos yang dikenakannya. Aku melihat dia mengenakan BH warna hitam. Tak sampai disana dia juga melepaskan BH itu. Di hadapanku Ibu Anna telanjang bulat, hanya sepatu kets warna putih dan kaos kaki yang masih dikenakannya. Aku dapat melihat tubuhnya yang berkilat akibat keringat yang mengalir deras ditubuhnya.

Suatu pemandangan yang sebelumnya kuanggap mustahil kulihat dikenyataan. Ibu Anna belum pernah menikah, maka itu tubuhnya masih langsing di usiannya. Ukuran buah dadanya juga sempurna dengan tubuhnya. Tangannya membawa BH yang tadi dilepaskannya ke arah wajahku. Dia menggunakan benda tersebut untuk menutup mataku lalu mengikatnya dibelakang kepalaku. Pandanganku hampir seluruhnya tertutup oleh BH itu, hanya bagian sudut mataku saja yang masih bisa melihat, itupun terbatas.

Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku, apakah Ibu Anna demikian mendendamnya padaku akibat perbuatanku waktu itu. Aku merasakan ada tangan yang mencengkram rambutku.

"Bangun kamu anjing!" bentak Ibu Anna.

Sebenarnya aku tidak mempunyai keinginan untuk membantah perkataannya, namun ikatan ditanganku terlebih di kakiku tidak memungkinkanku untuk dapat berdiri.

"Mp.. MMm.. PPHhH.." aku mencoba menjelaskan pada Ibu Anna.
"PPLLAAKK!!" sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.
"BANGUN!!" bentaknya keras.

Dengan segenap tenaga aku berusaha untuk bangun, akhirnya setelah dibantu oleh Ibu Anna akhirnya aku bisa berdiri. Dengan kasar Ibu Anna mencengkram penisku yang tegang, dapat kurasakan kuku-kukunya mengenai permukaan kulit penisku. Dengan mencengkram penisku Ibu Anna memaksaku untuk berjalan mengikutinya. Tentu saja ikatan pada kakiku tidak memungkinkanku untuk bergerak dengan leluasa. Dengan terseok-seok aku mengikuti langkah Ibu Anna. Untung saja ia tidak membawaku jauh, aku hanya merasa berjalan beberapa langkah. Dengan tiba-tiba tubuhku didorongnya hingga terhuyung kebelakang. Aku merasa terkejut dan bersiap-siap untuk jatuh ke lantai.

Ternyata aku tidak terjatuh ke lantai, melainkan ke ranjang. Dengan susah payah Ibu Anna membuat tubuhku berada di tengah-tengah ranjang itu. Karena perbuatannya penutup mataku bergeser sedikit. Ibu Anna menyadarinya lalu kembali membetulkan letak BH itu. Sesaat aku terdiam dalam posisi tersebut. Aku tidak tahu apa rencana Ibu Anna padaku, maka itu aku diam saja tidak bergerak.

"CCTTAARR!"

Tubuhku tersentak kaget. Aku merasakan perih pada pahaku.

"CCTTAARR!"
"CCTTAARR!"
"CCTTAARR!"

Bertubi-tubi aku merasakan perih pada tubuhku. Aku tidak tahu apa yang digunakan Ibu Anna untuk mencambukiku. Aku berusaha berguling-guling untuk menghindari pukulannya. Ibu Anna tidak peduli, dia terus mencambukiku dengan sangat keras. Hingga akhirnya aku terpojok pada sudut ruangan itu. Dan aku pun menjadi bulan-bulanannya. Dia terus mencambukiku sampai sekitar 30 kali baru berhenti. Entah karena dia kelelahan atau apa, yang pasti aku sangat lega dia menghentikan mencambukiku. Hampir seluruh tubuhku terkena pukulannya. Rasa perih dan panas berdenyut-denyut di seluruh tubuhku.

Aku dapat merasakan ikatan kakiku dibuka olehnya, "Jika kamu berani bertindak bodoh siap-siap saja terima hukuman lagi" ancamnya padaku. Setelah itu dengan cepat dia melepaskan celana jeans dan juga celana dalamku. Ibu Anna menjambakku dan menarikku untuk mengikutinya.

Aku dapat merasakan kakiku menginjak lantai yang basah, sepertinya Ibu Anna membawaku ke kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Aku didorongnya hingga terjerembab di lantai kamar mandi itu. Ibu Anna kemudian menyiramku dengan air. Setelah tubuhku basah semua, dia kembali mencambukiku. Aku berguling-guling di lantai kamar mandi itu untuk menghindari pukulannya. Perbuatanku tampaknya makin membuat Ibu Anna berang.

"Bangsat! Dasar anjing tidak tahu diri!" bentaknya keras padaku.

Tidak pernah kubayangkan Ibu Anna bisa berkata seperti itu. Aku mencoba untuk berdiri, namun tangan Ibu Anna menjambak rambutku dan kembali menghempaskan aku ke lantai. Aku terjatuh teletang di lantai.

"BUKK!"

Sebuah tendangan mendarat tepat di perutku. Aku terbatuk-batuk, namun karena mulutku tersumbat akibatnya malah aku tersedak. Jika saja tidak ada sumpal di mulutku aku pasti sudah memuntahkan isi perutku.

"Pelajaran buat kamu.. Jangan pernah mencoba melawan.. Mengerti?" kata Ibu Anna padaku. Salah satu kakinya menekan testisku.

Bersambung . . . . . .